Saturday, October 17, 2009

Pelayanan Kesehatan Gratis Dari Kotib di Nias

Pengobatan tidak hanya dilakukan di balai kesehatan, namun staff kesehatan juga memberikan pengobatan sampai ke Desa Lolosoni, desa ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki melintasi sungai dan bukit-bukit sepanjang lebih kurang 5 Kilometer, pengobatan di Desa ini dilakukan sebanyak 2 kali dalam satu bulan
Kotib telah membuka satu unit balai pengobatan di Desa Sirahia Kecamatan Gomo Kabupaten Nias Selatan sejak tahun 2008 yang lalu, hal ini dilakukan untuk mendukung kesehatan masyarakat dan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi penduduk di desa terpencil khususnya bagi masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan.

Ratusan masyarakat telah memanfaatkan balai pengobatan ini, sebagian besar dari mereka adalah orang tua, perempuan dan anak-anak, kelompok ini adalah kelompok yang sangat rentan terserang penyakit. Balai kesehatan Kotib ini difasilitasi dengan alat kesehatan yang sederhana, obat-obatan dan satu orang staff kesehatan yang mampu memberikan pertolongan pertama kepada masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis.

Jika masyarakat menderita penyakit yang lebih parah, maka Kotib akan merekomendasikannya ke rumah sakit pemerintah yang terdapat di Kota Gunung Sitoli. Namun, karena jarak yang sangat jauh, maka setiap masyarakat yang akan mendapatkan pertolongan medis tentu harus mendapatkan pertolongan pertama, itulah peran Kotib.

Selain itu, balai kesehatan Kotib juga melayani masyarakat yang menderita penyakit demam, batuk, pilek, Hipertensi & Hipotensi, GE/Magh, Dermatitis/luka  dan melayani masyarakat yang ingin ber KB. Pengobatan tidak hanya dilakukan di balai kesehatan, namun staff kesehatan juga memberikan pengobatan sampai ke Desa Lolosoni, desa ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki melintasi sungai dan bukit-bukit sepanjang lebih kurang 5 Kilometer, pengobatan di Desa ini dilakukan sebanyak 2 kali dalam satu bulan.

Seluruh biaya pengobatan dan obat-obatan yang diberikan gratis, pasien hanya diwajibkan membayar pengganti kartu pasien sebesar Rp. 2000,- sekali seumur hidup. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat menjaga dan merawat kartu pasien tersebut, sehingga staff kesehatan tidak kesulitan untuk mengidentifikasi data pasien. Seluruh aktifitas tersebut dilakukan oleh Kotib dengan dukungan penuh dari The Johanniter, suatu lembaga yang sangat peduli dengan kesehatan khususnya kesehatan anak-anak dan perempuan.

Uang Lauk Pauk untuk Korban Gempa

Selama masa tanggap darurat ini, pemenuhan kebutuhan dasar seperti beras dan uang lauk pauk telah disiapkan. Setiap orang memperoleh beras sebanyak 400 gram dan uang lauk pauk Rp5.000 per hari. Persediaan beras mencapai 13 ribu ton dan cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 4 bulan.

Selain pangan, kebutuhan dasar lainnya berupa pasokan air bersih, energi listrik, dan telekomunikasi telah kembali normal. Untuk tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, pemerintah mempertimbangkan untuk mengkombinasikan model pembangunan pascagempa di Yogyakarta dan Aceh dengan mengakomodasi nilai kultural Sumbar.

Pemerintah belum memutuskan untuk menghentikan proses tanggap darurat pascabencana di Sumatera Barat (Sumbar), dua pekan setelah gempa berkekuatan 7,9 SR yang merenggut korban jiwa mencapai 1.117 orang. Demikian yang disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif seusai sidang kabinet terbatas dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta, Kamis (15/10) yang dikutip dari website BNPB.

Sementara itu Presiden Yudhoyono dalam rapat tersebut mengharapkan setelah semua dilaksanakan, kondisi Sumbar dan Jambi bukan hanya pulih dari bencana tetapi lebih siap andaikata terjadi bencana serupa dengan pembangunan gedung-gedung yang lebih tahan gempa, kesiapan mental warganya yang lebih baik dan respons terhadap bencana pada jam-jam awal yang lebih baik.

Rapat terbatas dihadiri oleh Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menko Polhukam Widodo AS, Menkeu/pelaksana tugas Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Mensesneg Hatta Rajasa, Menkum HAM Andi Mattalata, Menteri PU Djoko Kirmanto, Menkes Siti Fadilah Supari, Mendagri Mardiyanto, Menhub Jusman Syafei Djamal, Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta, Mendiknas Bambang Sudibyo, Menkominfo Muhammad Nuh, Meneg BUMN Sofyan Djalil, Menlu Hassan Wirajuda dan Seskab Sudi Silalahi, serta Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso dan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi dan Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin.

CU-Kemandirian itu dimulai dari Gomo

mereka yang membentuk kelompok Credit Union (CU). Kelompok ini terdiri dari mayoritas perempuan, yang sangat memiliki potensi untuk menabung demi keberlangsungan hidup anak-anak dan keluarganya
Masyarakat di desa tersebut selama ini dianggap tidak mampu, mereka memang mayoritas terdiri dari petani yang masih hidup dalam kemiskinan. Namun anggapan itu dilawan oleh aktivitas mereka yang membentuk kelompok Credit Union (CU). Kelompok ini terdiri dari mayoritas perempuan, yang sangat memiliki potensi untuk menabung demi keberlangsungan hidup anak-anak dan keluarganya.
Dimulai dari rasa saling percaya, masyarakat yang belum terbiasa untuk berorganisasi tersebut mulai belajar berdiskusi, belajar mengenai pembukuan CU, belajar manfaat CU dan belajar membaca dan berhitung, bagaimana tidak, sebagian besar dari mereka belum mampu untuk membaca dan menulis, mereka masih banyak yang buta huruf.

Namun, kondisi tersebut tidak membuat tim Kotib di Nias Selatan menjadi jera, mereka dengan sabar memberikan diskusi, pelatihan dan penjelasan mengenai CU dan manfaatnya. Tidak tanggung-tanggung, trainer dari daerah lain didatangkan untuk memberikan pendidikan CU tersebut. Hasilnya, saat ini telah terbentuk 3 Kelompok CU di desa pedalaman Kecamatan Gomo Kabupaten Nias Selatan. Simpanan mereka mencapai ratusan juta, ratusan anggotanya telah merasakan manfaat dari CU tersebut. Mereka bisa menyimpan dan meminjam uang untuk keperluan sekolah anak-anak mereka, untuk mengembangkan usaha pertanian dan untuk memperbaiki rumah mereka. Semua itu tidak bisa mereka bayangkan sebelumnya.

Ketiga Kelompok Credit Union tersebut adalah: 
  1. CU Samaeri beranggotakan sebanyak 166 orang dengan simpanan sebesar Rp. 181.000.000 (seratus delapan puluh satu juta rupiah).
  2. CU Fanolo beranggotakan sebanyak 86 orang dengan simpanan sebesar Rp.21.000.000,- (dua puluh satu juta rupiah)
  3. CU Sondorogo beranggotakan sebanyak 28 orang dengan simpanan sebesar Rp. 4.900. 000,- (empat juta sembilan ratus ribu rupiah).
Harapan kelompok CU ini adalah mereka dapat melanjutkan usaha ekonomi mereka, kelompok CU semakin baik manajemennya, dan pengetahuan mereka semakin bertambah, mereka juga mengharapkan pemerintah untuk memberikan dukungan baik berupa dana maupun program pengembangan masyarakat lainnya yang dapat mereka terapkan melalui kelompok CU tersebut.

Nutrisi Tambahan Untuk Anak di Desa Terpencil

pemberian nutrisi ini diutamakan kepada anak-anak yang kurang gizi yang duduk di kelas 1 dan kelas 2 Sekolah Dasar.
Anak-anak di Lima desa terpencil Nias Selatan terlihat sangat gembira menerima nutrisi tambahan yang diberikan oleh Kotib. Nutrisi tambahan yang diberikan adalah susu cair 250 ml, bubur kacang hijau dan roti.

Untuk periode tahun 2009 ini,roti akan digantikan dengan makanan lokal yang lebih bergizi. Nutrisi diberikan sebanyak 2 kali dalam seminggu, pemberian nutrisi ini diutamakan kepada anak-anak yang kurang gizi yang duduk di kelas 1 dan kelas 2 Sekolah Dasar.
Dengan adanya pemberian nutrisi tambahan ini, orangtua maupun guru-guru mengakui bahwa anak-anak semakin rajin datang ke sekolah dan harapan mereka semoga pasokan gizi tersebut akan meningkatkan kecerdasan anak-anak mereka.
Pemberian nutrisi ini telah diberikan sejak tahun 2007 yang didukung penuh oleh lembaga The Johanniter. Kotib sengaja memilih daerah ini sebagai wilayah kerjanya, karena wilayah ini masih sangat terpencil dan rentan terhadap kekurangan gizi.

Sampai bulan April 2009 nutrisi ini diberikan kepada anak-anak di Desa Lahusa Idanotae sebanyak 560 orang, Desa Hilimbowo sebanyak 572 orang, Desa Sirahia sebanyak 435 orang, Desa Umbu Idanotae sebanyak 624 orang dan Desa Lolosoni sebanyak 578 orang. Dengan adanya pemberian nutrisi tambahan ini, orangtua maupun guru-guru mengakui bahwa anak-anak semakin rajin datang ke sekolah dan harapan mereka semoga pasokan gizi tersebut akan meningkatkan kecerdasan anak-anak mereka.

Usaha Bersama Kopi Aceh Paska Tsunami

Kelompok Bisnis yang dibangun oleh Darlina adalah kelompok “Bina Beusaree” dari bahasa Aceh,
Darlina (38 tahun), dengan bangga mengatakan bahwa saat ini mereka telah memiliki kelompok yang terdiri dari 18 orang perempuan yang mampu menghasilkan keuntungan dari aktivitas membuat kopi khas Aceh. Bubuk kopi yang mereka buat akan dipasarkan dengan harga Rp. 28.000,- per Kilogram. Kopi yang dihasilkan saat ini dipasarkan hanya di Desa Ladang Baroo, tapi mereka percaya akan dapat mempromosikan kopi tersebut sampai ke luar Aceh.

Kelompok Bisnis yang dibangun oleh Darlina adalah kelompok “Bina Beusaree” dari bahasa Aceh, Beusare yang artinya adalah Besar. Kelompok ini telah mulai dibentuk sejak bulan November tahun 2008 yang lalu.  Bermodalkan semangat dan dorongan dari tim Kotib, yang mendampingi mereka, akhirnya terbentuklah kelompok yang terdiri dari ibu-ibu yang selama ini tidak memiliki kesibukan selain pekerjaan rumah tangga.

“Saat ini kami mampu menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 7.000.000,-  hanya dalam waktu delapan bulan” ujar Darlina. Keuntungan tersebut mereka bagi kepada setiap anggota kelompok, dan sebagian dari keuntungan tersebut

disisihkan untuk simpanan bersama. Kelompok ini mengaku mampu menggiling bubuk kopi sebanyak 36 Kilogram dalam sekali penggilingan, saat ini mereka melakukan kegiatan penggilingan hanya 3 kali dalam satu bulan.

Mereka merasa beruntung dengan adanya pemberian mesin penggiling kopi dari Kotib, sehingga mereka bisa memulai kegiatan usaha bersama. Sebelum ada kelompok ini, mereka tidak banyak memiliki kegiatan lain. Saat ini, dengan modal membeli biji kopi seharga Rp. 21.000,- per Kilogram, mereka dapat menghasilkan 3 Kilogram bubuk kopi. Rahasianya adalah, 1 Kilogram bubuk kopi akan dicampur dengan 2 Kilogram beras dan 3 ons gula, campuran ini akan dimasak terlebih dahulu dan akhirnya digiling secara bersamaan. Campuran beras diyakini akan menambah cita rasa dari bubuk kopi dan menambah fungsi obat bubuk kopi yang dihasilkan, “orang tua dahulu sering mengeringkan dan memanggang beras untuk kemudian digiling, diseduh untuk mengobati orang yang sakit perut”. Ujar Juliati, bendahara untuk kelompok ini.

Kelompok ini berharap memiliki jaringan pemasaran sampai keluar Aceh, yang akhirnya akan membuat tempat tinggal mereka, Desa Ladang Baroo Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya menjadi salah satu daerah penghasil kopi Aceh yang terbaik, kopi kampong, demikian mereka menyebut kopi yang asli dari Aceh. Mereka mengaku kegiatan usaha bersama ini membuat mereka bisa saling berinteraksi satu sama lain dan memiliki kegiatan positif yang dapat memulihkan kondisi mereka setelah sebelumnya porak poranda dilanda oleh tsunami.

Darlina juga memberikan rahasia penggilingan kopi mereka, semakin kecil dan semakin matang biji kopi akan semakin baik bubuk yang dihasilkan, bagaimana kita memasaknya dan menentukan takaran campurannya, itulah kunci membuat bubuk kopi. Mereka biasanya menakar biji kopi dengan satuan bamboo, satu bamboo sama dengan 1,3 Kilogram. Darlina dan kawan-kawan berharap apa yang mereka mulai ini akan memberikan manfaat ekonomi untuk keluarga, desa dan kampung halaman mereka, sehingga mereka bisa lepas dari keterpurukan paska tsunami.

Saturday, October 10, 2009

Study Tour Anak-anak dari Desa Terpencil Nias Selatan

Siapa bilang study tour hanya bisa dilakukan oleh anggota DPR, Bupati dan Gubernur. Anak-anak di desa terpencil Kecamatan Gomo Kabupaten Nias Selatan ternyata juga bisa melakukan study tour
Siapa bilang study tour hanya bisa dilakukan oleh anggota DPR, Bupati dan Gubernur. Anak-anak di desa terpencil Kecamatan Gomo Kabupaten Nias Selatan ternyata juga bisa melakukan study tour, bedanya adalah, jika pejabat melakukan study tour terkesan untuk kesenangan saja, kalau anak-anak ini melakukan study tour memang untuk belajar mengetahui informasi dari luar desa mereka yang sangat terpencil, bahkan ada yang harus berjalan kaki 5 Kilometer untuk keluar dari desanya agar bisa mengikuti study tour ini.

Pesertanya juga bukan main, 50 orang anak-anak, semua bersukacita dengan adanya kegiatan ini. Bayangkan saja, inilah perjalanan terjauh seluruh peserta dari desanya masing-masing, orangtua anak-anak tersebut tampak bangga saat mengantar anaknya ke titik kumpul yang ditentukan.

Rombongan ini berangkat pada hari senin, 23 Maret 2009. pukul 13.30 sudah tiba di Laverna, Gunung Sitoli untuk istirahat dan sekaligus makan siang. Selanjutnya pada pukul 14.30 berangkat ke museum pusaka dengan menyewaangkutan. Hal pertama yang dilakukan anak-anak yaitu langsung membentuk kelompok belajar sesuai dengan tempat belajar yang dibangun Kotib di 5 desa, TPTG demikian mereka menyebutnya, kependekan dari Tempat Pendidikan Tambahan Gratis. Jadi ada 5 kelompok belajar pada hari itu, anak-anak diminta mencatat sebanyak-banyaknya nama-nama tumbuhan dan hewan yang mereka temui. Masing-masing kelompok didampingi staf Kotib dan juga guru pendamping.

Mereka langsung menyebar ke segala penjuru. Waktu yang dibutuhkan untuk ini adalah 30 menit. Selanjutnya rombongan menuju gedung pameran. Disini anak-anak dibagi petugas menjadi dua kelompok. Hal ini dibuat karena angka 50 sangat tidak mungkin ditangani oleh satu orang guide. Di dalam gedung ini sangat banyak hal yang diketahui oleh peserta mulai dari cara berpakaian orang tempo dulu, hingga kepada adat-istiadat suku Nias yang memang lain desa lain pula tradisinya. Sangat banyak pengetahuan yang mereka peroleh. Guru-guru yang mendampingi anak-anak juga antusias mendengarkan penjelasan yang diberikan guide. Ternyata mereka juga baru pertama ini mengunjungi museum. Kedengaran aneh sebenarnya, padahal mereka kan penduduk asli Nias? Tapi ini kenyataan, betapa rakyat kita sangat terbatas ekonominya untuk dapat mengunjungi tempat bersejarah saja banyak diantara kita yang tidak mampu melakukannya, padahal ini penting untuk mengetahui awal dan tujuan kita bersatu.

Rombongan kembali ke Laverna pada pukul 18.00 untuk istirahat sekaligus makan malam. Sebenarnya pada malam hari akan diadakan kegiatan di aula. Akan tetapi melihat kondisi anak-anak yang kelelahan, akhirnya kegiatan ditunda hingga keesokan harinya.
Keesookan harinya pada tanggal 24 Maret 2009, kegiatan dimulai pukul 09.00 pagi. Kegiatan ini diawali dengan berbagi pengalaman kemarin waktu mengunjungi museum. Selanjutnya anak-anak saling memperkenalkan diri dan setiap TPTG membawakan yel-yel TPTGnya. Seruuu sekali. Selanjutnya anak-anak dan juga guru diminta menceritakan kembali pengalamannya selama mengunjungi museum. Hal ini dibuat untuk menggali kembali sampai dimana daya ingat anak-anak tentang apa yang sudah mereka lihat.
Lalu kegiatan terakhir adalah acara menggambar. Anak-anak disuruh menggambar apa saja yang mereka ingat dan lihat di museum. Semuanya mereka gambar. Nah, yang lukisannya paling bagus akan mendapat bingkisan menarik dari KOTIB. Sst.....isinya hanyalah roti , hehehe....:)

Pada pukul 13.30 rombongan meninggalkan Laverna untuk kembali ke Gomo desa tercinta mereka. Namun karena kondisi hujan, jalan menjadi becek dan rombongan tertahan selama berjam-jam di jalan antara Lahusa-Gomo. Rombongan sampai di Gomo pada pukul 20.00.setelah istirahat sejenak sambil makan indomie, rombongan diantar naik truk sampai ke desa Tetegewo. Ternyata seluruh orang tua anak-anak sudah menanti anaknya disana. Awalnya kami khawatir mereka marah dan komplain, tetapi hal ini tidak terjadi. Mereka juga sudah maklum kondisi jalan di Gomo, sangat rusak parah, bahkan belum bisa dilalui oleh mobil saat tulisan ini dibuat.

Tindak lanjut dari kegiatan ini adalah setiap staf yang mengajar di TPTG Kotib meminta anak-anak yang ikut untuk menuliskan kembali pengalamannya dalam bahasa mereka sendiri. Mungkin ini berguna nantinya sebagai bahan kita kedepan, anak-anak itu melakukan segalanya dengan mandiri, ternyata mereka mampu menuliskan apa yang mereka alami, ini jauh berbeda jika mereka diminta menuliskan tentang sesuatu yang belum pernah dialaminya. Diantara tulisan itu terdapat kata-kata, “Terimakasih untuk guru Kotib dan juga kepada The Johanniter, kami semakin mencintai Nias dengan melihat Museum Pusaka yang dibangun oleh Pastor Johannes M Hammerle, OFMCap di Gunung Sitoli, semoga kami bisa menunjukkan kepada dunia, bahwa Nias penuh dengan sejarah”. Semoga.

Gunung Ujeun Aceh Jaya, menjanjikan atau meragukan?

dialog publik yang bertema Pengelolaan pertambangan emas Gunung Ujeun berbasis masyarakat di Aceh Jaya
Pada tanggal 18 Agustus 2009 yang lalu, KOTIB mengadakan dialog publik yang bertema Pengelolaan pertambangan emas Gunung Ujeun berbasis masyarakat di Aceh Jaya. Tujuan dari dialog ini adalah untuk mengingatkan masyarakat akan ancaman keselamatan jiwanya karena menambang dengan pola tradisional, ancaman kerusakan lingkungan dari kegiatan pertambangan, ancaman terkontaminasi logam berat karena menggunakan merkuri dan ancaman datangnya investor untuk menguasai tambang emas di wilayah tersebut.

Dialog ini adalah bentuk kepedulian KOTIB terhadap nasib para penambang yang terancam kehidupannya atas ancaman yang disebutkan tadi. Mereka hanya bermodalkan semangat, ingin cepat mendapatkan uang, rasa penasaran dan pengetahuan yang seadanya. Dialog ini menghadirkan aktivis tambang nasional, Hendrik Siregar dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Jaya dan pembicara Bappedal Provinsi Aceh. Hadir dalam dialog ini pemuka masyarakat dari Kecamatan Panga dan Krueng Sabee, para penambang, penggiling batu yang mengandung emas dan organisasi lain yang juga bekerja di wilayah Aceh Jaya.

Sejak dibuka September 2008, Gunung Ujeun pun beralih fungsi yang dulunya adalah  sang penjaga ekosistem pun mulai rusak. Penggalian disana sini untuk mendapatkan bijih emas merusak fungsinya. Penebangan hutan dan menggali terowongan sedalam lebih dari 30 m menjadi pemandangan yang lazim di Gunung Ujeun yang berada di desa Panggong, salah satu desa dampingan KOTIB. Kerusakan ini tak dapat dielakkan dan pasti terjadi di daerah pertambangan. Tak peduli siapapun yang mengelelola, perusahaan besar ataupun masyarkat biasa. Perbedaannya hanya terletak pada masa atau waktu yang dibutuhkan untuk merusaknya.

Tulisan ini sedang tidak membicarakan kerusakan lingkungan, namun dampak lain yang juga menjadi perhatian. Dampak terhadap kondisi ekonomi masyarakat yang nantinya sangat mempengaruhi kesejahteraan mereka. Apakah pertambangan ini sudah menjawab kondisi itu? Ada perubahan besarkah? Apakah berbanding terbalik pada saat pertama diketahui tentang keberadaannya?.

Dari hasil survey yang dilakukan KOTIB pada bulan Juni sampai Agustus terhadap 96 responden yang dibagi dalam 5 kategori, penambang, penggiling, masyarakat sekitar dan lainnya menunjukkan adanya perubahan terhadap perekonomian. Perubahan yang ditunjukkan adalah kurva menaik, dengan kata lain meningkatkan ekonomi keluarga. Sayangnya peningkatan ini pun menjadi tidak valid ketika melihat kembali kepada kondisi rill mereka.

Kondisi rill ini dapat dicontohkan dari total pengeluaran mereka dengan pendapatan mereka. Kata untung-untungan masih tetap harus dilekatkan pada mereka, karena nanti hasil menambang itu tak ada kepastian. Kemungkinan pulang dengan tangan berisi hanya sekitar 20%, jika dibandingkan pulang dengan tangan kosong yang mencapai 80%. Sangat disayangkan.

Namun kondisi ini tidak mengurangi jumlah penambang. Malahan mengadu nasib di Gunung Ujeun menjadi trend di masyarakat kabupaten Aceh Jaya saat ini. Mereka meninggalkan lahan pertanian mereka dan memilih ke Gunung Ujeun. Medan yang sulit diitempuh, kondisi kerja yang berat dibandingkan dengan bertani tak menyurutkan semangat untuk menambang. Lebih parahnya, masyarakat yang menjadi penambang tadi pun tak segan-segan mengeluarkan modal yang besar untuk melancarkan profesi barunya.

Hal yang terakhir berbanding terbalik dengan kondisi ketika mereka masih bertani. Kesulitan dana menjadi alasan tidak berkembangnya pertanian mereka. Masyarakat tak gigih mencari modal untuk bertani, jika dibandingkan dengan mencari modal untuk menambang. Sangat disayangkan. Penambang dadakan ini tak segan-segan berhutang banyak untuk modal menambang, walaupun hasil belum tentu ada. Dana yang dikumpulkan tak tanggung-tanggung, mencapai lebih dari Rp. 5 juta per orang. Mampu mendapatkan modal sebegitu banyak? Nyatanya, toh mereka tetap menambang. Perjudian hidup pun dimulai.

Pengamatan langsung terhadap penambang dadakan menunjukkan tidak ada perubahan signifikan. Beberapa diantara mereka mengatakan sebenarnya kebanyakan pemasukan penambang belum dapat menutupi modal mereka, alias rugi. Biaya yang keluar tak sebanding dengan pemasukan. Walaupun tak dinafikan ada juga dari mereka yang kaya mendadak. Itu pun hanya segelintir saja. Dana yang dikumpulkan-penambang ada yang bergrup dan perorangan, dikurangi dengan biaya operasional, jauh panggang dari api.

Hasil tambang yang diharapkan untuk menutupi modal tak kesampaian. Penyebabnya, dari berkarung-karung batu yang diharapkan mengandung emas yang dikumpulkan dengan modal yang lumayan besar ternyata nihil. Tak ada batu yang mengandung bijih emas. Pengumpulan modal dengan cara berhutang akhirnya merugi, karena hutang tak dapat dibayar.

Alasan membayar hutang, menambang emas pun beraksi lagi dengan modal hutang baru. Istilahnya, gali lubang, tutup lubang. Penambang mulai berani berspekulasi dengan hutang sana sini dengan kepastian membayar yang tak jelas. Kondisi inilah yang kebanyakan dialami oleh penambang. Kerugian yang diderita pun dapat dikategorikan besar. Ini disesuaikan dengan kondisi sebelum menambang. Jika dalam grup, seorang merugi lebih dari Rp.5 juta sedangkan yang pribadi sekitar Rp.10 juta lebih. Pembelian peralatan dan biaya hidup menjadi pengeluaran utama ditambah dengan biaya kerja seperti pendulangan, pengangkutan, dsb.

Banyaknya masyarakat mengalihkan profesi mereka menjadi penambang dadakan ternyata bukan jawaban dari perubahan hidup yang lebih baik. Toh, kebanyakan dari mereka merugi besar. Sayangnya, mereka tidak menyadarinya dengan baik. Mereka merasa puas ketika mendapatkan dua mayam setelah sepuluh kali pergi menambang. Coba dibayangkan saja berapa banyak biaya yang keluar dikurangi dibandingkan dengan hasil yang didapatkan. Inilah kondisi rill kebanyakan masyarakat Aceh Jaya setelah menambang. Sebenarnya tidak ada perubahan yang menunjukkan adanya perbaikan.

Memang ada diantara mereka yang mendapat untung besar dari menambang emas ini, namun hanya segelintir saja. Meskipun begitu, masyarakat masih tetap menambang, seakan tak peduli dan tidak menyadari kondisi mereka sendiri yang ingin untung besar dengan cepat. Perjudian hidup masih berjalan. Masyarakat masih lebih merespon sesuatu yang instant mencari penghidupan. Mereka sudah kurang tertarik dengan menunggu hasil bertahun-tahun, seperti bertani. Alhasil kemiskinan pun masih mewarnai kehidupan masyarakat, peran Negara sangat penting disini, untuk memberikan jaminan kesejahteraan bagi seluruh warganya dan memberikan kesadaran bahwa tidak ada pertambangan yang tidak merusak lingkungan.

Oleh : Haricha Maria

Saturday, June 13, 2009

Dimana Fungsi dan Peran Pemerintah (Dinas Pertanian)

Lanjutan dari : Realitas petani di Aceh

Hari demi hari telah terlewati seiring dengan berjalannya waktu, tidak terasa telah memasuki tahun kedua di Daerah Aceh Jaya. Seiring dengan waktu sangatlah banyak kejadian-kejadian yang telah terjadi di daerah dampingan yang terdiri dari beberapa desa dimana pola hidup dan tingkat pemikiran yang sangat beragam dan berbeda. Peristiwa yang terjadi di daerah pucuk (desa pedalaman) yang dulunya adalah daerah yang mengalami permasalahan konflik. Dengan berbekal rasa kemanusiaan dan sosial KOTIB sebagai salah satu lembaga yang bergerak dalam bidang kemanusiaan secara langsung terjun ke masyarakat itu sendiri dengan tujuan untuk membantu meningkatkan perekonomian dan pola pikir dari masyarakat yang dulunya mendapatkan banyak sekali tekanan dalam menggapai cita-cita dan harapan.

Terlepas dari apa yang telah terjadi dan didukung dengan situasi dari daerah tersebut penulis mencoba untuk membuat suatu karya yang mana karya tulisan ini merupakan kejadian-kejadian dan peristiwa serta pengalaman di daerah dampingan. Berbekal program yang dilaksanakan oleh KOTIB adalah pendampingan masyarakat yang salah satunya adalah dalam bidang pertanian dimana dengan melihat kondisi dan keadaan daerah tersebut yang mana masyarakat pada umumnya adalah masyarakat yang untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah dari bertani, dimana pertanian yang dilaksanakan adalah penanaman berbagai macam jenis tanaman seperti karet, kopi, coklat, nilam dan padi serta lain sebagainya. Dengan melihat keadaaan di lapangan bahwa pada dasarnya pertanian yang dilaksanakan oleh masyarakat adalah masih secara tradisional yang mana dapat dibuktikan dengan beberapa proses pertanian tidak menerapkan system dan cara bercocok tanam yang benar sesuai dengan kondisi tanah dan jenis tanamannya.

Sebagai contoh di lahan masyarakat menunjukkan bahwa penggunaan jarak tanam sangat tidak diperhatikan sehingga terdapat tanaman yang ditanam sangat rapat bahkan dalam proses pemeliharaannya sangat susah untuk dilakukan sehingga dengan demikkian pemeliharaan dan perawatan tersebut tidak berjalan dengan baik yang mengakibatkan tanaman tersebut akan mengalami pertumbuhan yang kurang baik.

Setelah melihat dan mempelajari bahwa sebenarnya daerah dampingan memiliki potensi untuk berkembang dalam sektor pertanian hal ini didukung tersedia dan banyak lahan yang sangat kosong dan pada kenyataannya masyarakat tidak mau untuk memanfaatkan untuk menjadikan areal pertanian secara terorganisir dan hanya melakukan proses pertanian dengan melakukan penanaman suatu jenis dan kemudian menunggu hingga saatnya akan panen telah tiba, dengan memperhatikan hal tersebut KOTIB yang sangat prihatin akan kondisi tersebut mencoba untuk memberikan penjelasan dan pengertian melalui pelaksanaan pelatihan dan pembelajaran di lapangan tentang proses pertanian yang sebenarnya. Salah satu upaya yang dilaksanakan oleh KOTIB adalah pemberian bantuan berupa bibit tanaman yang nantinya akan memberikan manfaat bagi masyarakat itu sendiri dan dalam proses pemberian bantuan tersebut.
Dengan melihat bagaimana cara dan sistem dari masyarakat dalam melaksanakan pertaniannya maka sangatlah dibutuhkan tenaga-tenaga ahli dalam bidang pertanian untuk memberikan pendampingan dan juga pengarahan-pengarahan dalam bidang pertanian, karena pengalaman peristiwa dilapangan bahwa sebenarnya pemerintah telah memberikan bantuan kepada masyarakat dalam bidang pertanian berupa bahan-bahan untuk pertanian seperti pupuk dan lain sebagainya, namun kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa pemberian bantuan dari pemerintah kepada masyarakat hanya sebatas bantuan namun untuk proses selanjutnya bagaimana agar nantinya apa yang telah diberikan dan diterima oleh masyarakat itu akan berguna karena banyak sangat banyak bantuan tersebut mengalami kematian sebagai akibat dari tidak adanya perhatian dari pemerintah (dinas terkait) karena setelah bibit telah diterima masyarakat tidak melakukan tindak lanjut berupa pemberian penyuluhan dan juga pemanfaatan lahan masyarakat itu sendiri.

Melihat pengalaman dari masyarakat itu sendiri bahwa proses pertanian yang diterapkan oleh masyarakat adalah proses pertanian turun temurun atau dengan kata lain adalah pertanian yang tradisional tidak melaksanakan pola tanam dan sistem pertanian, dimana untuk membuka lahan yang akan dijadikan sebagai areal pertanian, hanya dengan melakukan pembabatan dan pembakaran dan selanjutnya tidak melakukan pengolahan tanah dan langsung menanam tanaman yang dinginkan jika lahan tersebut memungkinkan untuk di tanam hal ini dikarenakan masih sangat minimnya pengetahuan di bidang pertanian sehinggga pemerintah juga harus tanggap terhadap pengetahuan dari masyarakat itu sendiri. Mendengar penjelasan dari beberapa masyarakat dampingan terhadap keberadaan instansi yang terkait masyarakat, nyatalah bahwa mereka sangat membutuhkan pihak-pihak yang dapat memberikan pengarahan dan penjelasan tentang pertanian moder.

Dalam hal ini sebagaimana dengan fungsi dan peran di masyarakat semestinya pemerintah harus dapat mengetahui kendala dan permasalahan yang terjadi di lingkungan masyarakat petani. Sebagai salah satu contoh permasalahan yang terdapat di daerah dampingan dan juga daerah lainnya tentang keberadaan dari hama babi hingga sekarang pemerintah belum memberikan tindakan bahkan pelatihan terhadap masyarakat dalam menangani hama tersebut, ataupun untuk mengurangi keberadaan hama babi di areal pertanian bahkan yang sangat disesalkan bukan hanya di daerah pertanian saja bahkan di daerah pemukiman juga hama tersebut sangatlah mengganggu dan merajalela sehingga masyarakat tidak mau bertindak dalam rangka memberantas hama tersebut.

Untuk itu diharapkan untuk kedepan nantinya pemerintah yang terkait dengan pertanian dapat meningkatkan fungsi dan peran mereka dalam menunjang pembangunan dan perkembangan sektor pertaian sehingga masyarakat dapat menjadi petani yang modern dengan menerapkan sistem dan teknik pertanian secara baik dan benar dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil pertanian mereka, sehingga mereka tidak akan menjadi petani miskin yang akhirnya meninggalkan pertaniannya untuk kembali memanggul senjata

Oleh : Nober Sirait

Realitas petani di Aceh

Hari demi hari telah terlewati seiring dengan berjalannya waktu, tidak terasa telah memasuki tahun kedua di Daerah Aceh Jaya. Seiring dengan waktu sangatlah banyak kejadian-kejadian yang telah terjadi di daerah dampingan yang terdiri dari beberapa desa dimana pola hidup dan tingkat pemikiran yang sangat beragam dan berbeda. Peristiwa yang terjadi di daerah pucuk (desa pedalaman) yang dulunya adalah daerah yang mengalami permasalahan konflik. Dengan berbekal rasa kemanusiaan dan sosial KOTIB sebagai salah satu lembaga yang bergerak dalam bidang kemanusiaan secara langsung terjun ke masyarakat itu sendiri dengan tujuan untuk membantu meningkatkan perekonomian dan pola pikir dari masyarakat yang dulunya mendapatkan banyak sekali tekanan dalam menggapai cita-cita dan harapan.

Terlepas dari apa yang telah terjadi dan didukung dengan situasi dari daerah tersebut penulis mencoba untuk membuat suatu karya yang mana karya tulisan ini merupakan kejadian-kejadian dan peristiwa serta pengalaman di daerah dampingan. Berbekal program yang dilaksanakan oleh KOTIB adalah pendampingan masyarakat yang salah satunya adalah dalam bidang pertanian dimana dengan melihat kondisi dan keadaan daerah tersebut yang mana masyarakat pada umumnya adalah masyarakat yang untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah dari bertani, dimana pertanian yang dilaksanakan adalah penanaman berbagai macam jenis tanaman seperti karet, kopi, coklat, nilam dan padi serta lain sebagainya. Dengan melihat keadaaan di lapangan bahwa pada dasarnya pertanian yang dilaksanakan oleh masyarakat adalah masih secara tradisional yang mana dapat dibuktikan dengan beberapa proses pertanian tidak menerapkan system dan cara bercocok tanam yang benar sesuai dengan kondisi tanah dan jenis tanamannya.

Sebagai contoh di lahan masyarakat menunjukkan bahwa penggunaan jarak tanam sangat tidak diperhatikan sehingga terdapat tanaman yang ditanam sangat rapat bahkan dalam proses pemeliharaannya sangat susah untuk dilakukan sehingga dengan demikkian pemeliharaan dan perawatan tersebut tidak berjalan dengan baik yang mengakibatkan tanaman tersebut akan mengalami pertumbuhan yang kurang baik.

Setelah melihat dan mempelajari bahwa sebenarnya daerah dampingan memiliki potensi untuk berkembang dalam sektor pertanian hal ini didukung tersedia dan banyak lahan yang sangat kosong dan pada kenyataannya masyarakat tidak mau untuk memanfaatkan untuk menjadikan areal pertanian secara terorganisir dan hanya melakukan proses pertanian dengan melakukan penanaman suatu jenis dan kemudian menunggu hingga saatnya akan panen telah tiba, dengan memperhatikan hal tersebut KOTIB yang sangat prihatin akan kondisi tersebut mencoba untuk memberikan penjelasan dan pengertian melalui pelaksanaan pelatihan dan pembelajaran di lapangan tentang proses pertanian yang sebenarnya. Salah satu upaya yang dilaksanakan oleh KOTIB adalah pemberian bantuan berupa bibit tanaman yang nantinya akan memberikan manfaat bagi masyarakat itu sendiri dan dalam proses pemberian bantuan tersebut.

KOTIB juga melakukan pengawasan dan memberikan pengetahuan dalam hal budidaya pertanian melalui pendampingan hingga ke lahan pertanian. Dari pendampingan yang dilaksanakan KOTIB berbagai cara telah dilaksanakan seperti pemberian tentang penjelasan bagaimana melakukan kegiatan pertanian sebelum dan pada saat tanaman tersebut tumbuh hingga akhirnya nantinya dapat menghasilkan. Salah satu contoh yang dijelaskan adalah bahwa dalam proses pertanian sangatlah perlu dilaksanakan proses pengolahan tanah sebelum tanam seperti penggemburan tanah melalalui pembalikan tanah dengan cara mencangkul atau melakukan pembajakan yang bertujuan untuk menjaga tingkat kesuburan tanah tetap terjaga dan unsur kandungan makanan tetap akan tersedia. Hal ini dilakukan oleh karena sebelumnya bahwa masyarakat melakukan proses pertanian dengan tidak menggunakan pola tanam seperti jarak tanaman yang dipergunakan untuk setiap jenis tanaman sesuai dengan sistem pertanian yang dilakukan.

Sebagaimana dengan pendampingan yang dilaksanakan di masyarakat hal yang sungguh sangat disayangkan adalah antusias dan keinginan dari masyarakat tersebut yang memang sangat perlu untuk dilakukan kegiatan-kegiatan dalam konteks penguatan terhadap sikap dan juga keinginan bertani sehingga mereka dapat dikatakan sebagai petani karena hal ini merupakan salah satu faktor untuk menunjang kegiatan pertanian di lingkungan masyarakat dampingan. Sebagai salah satu faktor yang menjadikan bahwa potensi lahan tersebut sangat baik adalah dimana masyarakat dalam penggunaan bahan kimia seperti pupuk sangatlah kecil sekali jika dibandingkan dengan daerah-daerah pertanian lainnya di luar kawasan Aceh Jaya dan juga di propinsi-propinsi lain.

Dengan melihat kenyataan di lapangan dan juga daerah lahan pertanian masyarakat khususnya untuk jenis tanaman perkebunan bahwa letaknya berada di daerah perbukitan dan pegunungan sehingga sangat banyak kendala yang dihadapi dalam proses pemeliharaan dan salah satu contoh adalah hama babi hutan dimana hama tersebut dapat mengakibatkan dampak yang sangat besar bagi pertumbuhan tanaman yang baru ditanam, sebagai contoh untuk bibit karet yang diberikan KOTIB masyarakat melakukan penanaman dan setelah ditanam sangat banyak bibit yang mengalami kerusakan bahkan mengakibatkan banyak tanaman yang mati akibat diserang oleh hama babi dimana hama babi merusak dengan cara membongkar tananaman yang bau di tanam bahkan sampi memakan daun tanaman yang masih muda (baru di tanam). Untuk jenis tanaman lain juga demikian apabila tidak di makan maka hama tersebut merusak dengan cara membongkar tanaman tanah yang mengakibatkan tanaman tercabut. Selain hama babi yang merusak tanaman gajah dan monyet juga faktor yang merugikan bati masyarakat petani di wilayah dampingan.

Oleh : Nober Sirait

Selanjutnya : Dimana Fungsi dan Peran Pemerintah (Dinas Pertanian)

Potret Sisi Gelap Kehidupan Perempuan Aceh

Ketika mendengar kata Perempuan banyak orang akan tergiring dalam pola pikir bahwa perempuan adalah insan yang rapuh baik secara fisik maupun mental. Perempuan dinilai tidak mampu mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga. Perempuan juga dinilai tidak mampu menjadi seorang pemimpin karena dianggap lebih menonjolkan sisi perasaan ketimbang logika. Anggapan tersebut hingga saat ini masih diamini baik oleh kaum laki-laki maupun kaum perempuan sendiri. Bias pekerjaan tersebut lama-kelamaan membuat posisi perempuan terdegradasi dibawah dominasi kaum laki-laki. Padahal jika kita berpikir arif, begitu banyak peran yang diambil oleh perempuan sampai pada hal yang terkecil seperti pekerjaan domestik rumah tangga. Tidak jarang perempuan juga menjadi ujung tombak dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Beban kerja yang dikerjakan kaum perempuan justru sering melebihi beban kerja kaum laki-laki. Hal ini tidak hanya terjadi di satu tempat atau daerah tetapi juga terjadi di berbagai daerah termasuk Aceh Jaya.

Setelah 6 (enam ) bulan penulis berada di Aceh Jaya, penulis melihat langsung potret atatu aktivitas kehidupan perempuan Aceh. Stigma kaum perempuan yang lemah tidak terbukti. Dalam 1 (satu) hari kaum perempuan melakukan seluruh pekerjaannya hingga memakan waktu 13 jam. Setelah shalat subuh hingga pukul 8, khususnya seorang Ibu rumah tangga akan melakukan pekerjaan rumah seperti memasak sarapan mengantar anak ke sekolah hingga membersihkan rumah. Pukul 8 hingga pukul 12 siang bersama suami pergi ke Ladang atau kebun bersama. Setelah itu kaum perempuan harus menyiapkan makan siang untuk keluarganya, aktivitas ini biasanya dilakukan pada jam 12 hingga jam 14. Setelah itu perempuan melakukan aktivitas seperti membersihkan rumah, memasak, mencuci pakaian, dan mengurus anak. Pada pukul 16 hingga pukul 18 Aktivitas seperti memasak untuk makan malam wajib dilakukan. Dalam kehidupan bersosial, kaum perempuan tetap diposisikan sebagai warga kelas dibawah kaum laki-laki. Mulai dari cara berpakaian hingga jam keluar malam telah diatur secara tidak tertulis.

Berbeda dengan peran seorang Suami. Setelah pulang dan memakan masakan sang istri atau anak perempuannya, kaum laki-laki bisa memilih antara beristirahat di rumah atau pergi ke warung untuk minum kopi. Kondisi ini sepertinya telah menjadi kebiasaan masyarakat hingga menjadi sebuah rutinitas sehari-hari. Di tengah kondisi seperti ini, perempuan Aceh hanya mampu mengeluh dengan kondisi yang mereka alami sehari-hari. “bagaimana mungkin, habis waktu hanya untuk mengerjakan mencuci, menggosok, masak, ngurus anak”. Ujar seorang Ibu ketika diajak berdiskusi tentang upaya pengembangan sumber daya perempuan di Aceh.

Fenomena diatas berdampak negatif bagi anak perempuan diusia sekolah. Mereka beranggapan mengecap pendidikan hingga perguruan tinggi tidak berguna karena pada akhirnya ilmu yang mereka dapat tidak dapat diterapkan baik di lingkungan kerja ataupun di masyarakt sekitar. Tidak jarang, anak-anak perempuan Aceh harus putus sekolah ditengah jalan karena terpaksa menikah. Kondisi ini tentu saja bertolak belakang dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki daerah Aceh.

Pertanyaan mendasar, mampukah kaum perempuan keluar dari ketertinggalannya?. Pertanyaan tersebut hanya dapat dijawab ketika setiap elemen bangsa ini duduk bersama menemukan jalan keluar sambil menanggalkan kesombongan kelompoknya untuk kemajuan bangsa seluruh rakyat terutama kaum perempuan yang selama ini terpinggirkan.

Oleh : Debora

Pesan Untuk Partai Lokal Di Aceh

Bencana Tsunami yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam menjadi awal dari perdamaian atas konflik yang sudah terjadi selama puluhan tahun di bumi serambi Mekah.Perjanjian Damai yang diwujudkan dalam MOU Helsinki yang di tandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 menjadi awal sejarah yang baru bagi perdamaian Aceh walaupun terjadi di tengah awal proses rekonstruksi dan rehabilitasi paska bencana gempa bumi dan tsunami.

Perjanjian Helsinki mengakhiri konflik yang terjadi antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia menjadi sejarah baru bagi perjalanan Aceh ke depan, walaupun MOU tersebut hanya merupakan Deal politik yang harus tunduk kepada UU yang mengatur dari Point-point yang telah di sepakati dalam MOU tersebut.

Salah satu poin dari perjanian Helsinki adalah tentang pendirian Partai Lokal di NAD yang bertujuan untuk menampung aspirasi dari masyarakat. Pendirian partai local akan membuat dinamika politik yang terjadi di NAD bisa sangat memanas karena munculnya partai local merupakan buah dari ketidak percayaan kepada Partai yang berbasis nasional. Partai local merupakan sesuatu yang baru di NAD secara khusus dan Indonesia secara umum, sehingga perlu untuk mengetahui bagaimana kiprah partai local sebagai salah satu media pendidikan politik bagi rakyat pasca pemilu 8 April 2009.

Saat ini merupakan masa-masa yang baru bagi masyarakat yang akan datang ke NAD, kalau mungkin dulu di masa darurat militer di sepanjang jalan akan dijumpai banyak militer yang berdiri di sepanjang jalan dengan moncong senjata yang siap untuk memuntahkan pelurunya. Tapi itu hanya masa lalu, sekarang ketika kita melakukan perjalanan di sepanjang jalan akan banyak kita lihat poster-poster yang memberikan senyuman walaupun pada ujung-ujungnya akan menyuruh kita agar mencontreng yang memberikan senyuman pada pemilu yang akan datang.

Adanya 6 (Enam) partai lokal yang ada di NAD tentunya akan memunculkan pertanyaan di pikiran kita masing-masing seperti apa kiprah partai local bertarung menjadi pejabat politik (Politisi) dengan politisi-politisi yang ada di partai nasional dan bagaimana konsep para petarung tersebut dalam membuat produk hukum dalam rangka melanjutkan pembangunan NAD setelah bencana tsunami.

Pentingnya Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia merupakan salah satu elemen yang penting dalam hal terjun ke dunia politik yang terkenal dengan istilah “tidak ada kawan yang abadi, tapi yang ada adalah kepentingan yang abadi” . Kenapa sumber daya manusia perlu dibahas? karena dalam mendirikan sebuah partai tentunya tidak bisa lepas dari hal tersebut. Apalagi kita tahu bahwa orang-orang dari partai lokal yang terbentuk sekarang ini secara tidak langsung telah terdidik oleh suasana Daerah Operasi Militer (DOM) yang sedikit banyaknya mempengaruhi pembentukan karakter manusia di wilayah tersebut.

Pembangunan NAD ke depan akan sangat tergantung kepada partai lokal yang telah ada sekarang ini, untuk itu sangat banyak harapan masyarakat yang digantungkan kepada partai lokal yang ada sekarang. Yang menjadi pertanyaan apakah partai lokal bisa membawa aspirasi masyarakat dengan kondisi sumber daya manusia yang pas – pasan? Pertanyaan ini muncul bukan karena pesimis terhadap keberadaan partai lokal dalam membawa aspirasi masyarakat tapi melihat realita yang terjadi.

Mungkin kalau kita kembali ke masa yang lampau akan teringat dengan pernyataan-pernyataan yang mengatakan bahwa NAD atau Daerah Istimewa Aceh tidak pernah diberikan anggaran yang besar untuk pembangunan Aceh. Tapi yang dulu diteriakkan tentang kurangnya anggaran telah terjawab sekarang dengan melimpahnya anggaran dari pusat kepada NAD yang termasuk daerah dengan otonomi khusus. Tapi yang terjadi di beberapa kabupaten yang ada di NAD dan malah provinsinya sendiri tidak bisa mengelola keuangan yang telah di anggarkan. Hal ini bisa kelihatan dari rendahnya daya serap anggaran yang tidak sampai 60 % pada tahun 2008.

Kejadian yang terbaru malah APBA yang di koreksi oleh Mendagri telah disahkan tanpa perbaikan (ada koreksi yang dilakukan oleh Mendagri selaku pemrintah Pusat). Kejadian ini malah memunculkan pertanyaan apakah para pejabat di NAD sekarang ini sudah tidak lagi mengakui pemerintah pusat paska pemberian otonomi khusus atau memang karena sumber daya manusia yang kurang dari pemerintah propinsi NAD atau perbaikan yang diusulkan oleh Mendagri tidak berpihak pada masyarakat?. Melihat peristiwa-peristiwa di atas tentunya kita sangat berharap pada peranan partai lokal ini nantinya untuk memberikan yang terbaik kepada warga Aceh.

Strategi Mendapatkan Pemilih

Paska MOU Helsinki sebagian besar masyarakat masih memiliki keterikatan dengan simbol-simbol dan keterikatan kelompok. Kelompok massa inilah yng kini menjadi rebutan, sayangnya kelompok massa yang menjadi incaran kontentan pemilu ini adalah yang disebut kelompok mayoritas. Kelompok mayoritas ini masih buta politik dan kebanyakan mengenyam pendidikan alakadarnya. Maka, realitistiskah jika berharap bisa mendidik rakyat yang pendidikannya terbatas agar bisa memahami politik dalam waktu yang begitu singkat? Padahal Pemilu 2009 ini diharapkan menjadi satu pemilu yang lebih berkualitas paska konflik.

Sejak sekarang hendaknya ada kesadaran untuk bisa menerima perbedaan pendapat secara terbuka dan adil. Karena di mata masyarakat pemilih partai lokal atau partai nasional sama saja yang penting yang menjadi incaran pemilih adalah siapa yang bisa menampung aspirasi mereka. Makanya bagi peserta pemilu, terutama para caleg, dalam kondisi sekarang yang paling tepat adalah menunjukkan sikap cerdas dan bermartabat dihadapan konstituen.

Kalau politik disepakati sebagai upaya terus menerus untuk memberdayakan dan mencerdaskan masyarakat dan bangsa kita, maka peran itulah yang harus ditunjukkan oleh partai lokal. Jangan sampai sepeti yang terjadi selama ini yang paling menonjol di balik fenomena kehidupan partai politik adalah bagaimana merebut dan mempertahankan kekuasaan.

oleh : Batanggor