Saturday, June 13, 2009

Dimana Fungsi dan Peran Pemerintah (Dinas Pertanian)

Lanjutan dari : Realitas petani di Aceh

Hari demi hari telah terlewati seiring dengan berjalannya waktu, tidak terasa telah memasuki tahun kedua di Daerah Aceh Jaya. Seiring dengan waktu sangatlah banyak kejadian-kejadian yang telah terjadi di daerah dampingan yang terdiri dari beberapa desa dimana pola hidup dan tingkat pemikiran yang sangat beragam dan berbeda. Peristiwa yang terjadi di daerah pucuk (desa pedalaman) yang dulunya adalah daerah yang mengalami permasalahan konflik. Dengan berbekal rasa kemanusiaan dan sosial KOTIB sebagai salah satu lembaga yang bergerak dalam bidang kemanusiaan secara langsung terjun ke masyarakat itu sendiri dengan tujuan untuk membantu meningkatkan perekonomian dan pola pikir dari masyarakat yang dulunya mendapatkan banyak sekali tekanan dalam menggapai cita-cita dan harapan.

Terlepas dari apa yang telah terjadi dan didukung dengan situasi dari daerah tersebut penulis mencoba untuk membuat suatu karya yang mana karya tulisan ini merupakan kejadian-kejadian dan peristiwa serta pengalaman di daerah dampingan. Berbekal program yang dilaksanakan oleh KOTIB adalah pendampingan masyarakat yang salah satunya adalah dalam bidang pertanian dimana dengan melihat kondisi dan keadaan daerah tersebut yang mana masyarakat pada umumnya adalah masyarakat yang untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah dari bertani, dimana pertanian yang dilaksanakan adalah penanaman berbagai macam jenis tanaman seperti karet, kopi, coklat, nilam dan padi serta lain sebagainya. Dengan melihat keadaaan di lapangan bahwa pada dasarnya pertanian yang dilaksanakan oleh masyarakat adalah masih secara tradisional yang mana dapat dibuktikan dengan beberapa proses pertanian tidak menerapkan system dan cara bercocok tanam yang benar sesuai dengan kondisi tanah dan jenis tanamannya.

Sebagai contoh di lahan masyarakat menunjukkan bahwa penggunaan jarak tanam sangat tidak diperhatikan sehingga terdapat tanaman yang ditanam sangat rapat bahkan dalam proses pemeliharaannya sangat susah untuk dilakukan sehingga dengan demikkian pemeliharaan dan perawatan tersebut tidak berjalan dengan baik yang mengakibatkan tanaman tersebut akan mengalami pertumbuhan yang kurang baik.

Setelah melihat dan mempelajari bahwa sebenarnya daerah dampingan memiliki potensi untuk berkembang dalam sektor pertanian hal ini didukung tersedia dan banyak lahan yang sangat kosong dan pada kenyataannya masyarakat tidak mau untuk memanfaatkan untuk menjadikan areal pertanian secara terorganisir dan hanya melakukan proses pertanian dengan melakukan penanaman suatu jenis dan kemudian menunggu hingga saatnya akan panen telah tiba, dengan memperhatikan hal tersebut KOTIB yang sangat prihatin akan kondisi tersebut mencoba untuk memberikan penjelasan dan pengertian melalui pelaksanaan pelatihan dan pembelajaran di lapangan tentang proses pertanian yang sebenarnya. Salah satu upaya yang dilaksanakan oleh KOTIB adalah pemberian bantuan berupa bibit tanaman yang nantinya akan memberikan manfaat bagi masyarakat itu sendiri dan dalam proses pemberian bantuan tersebut.
Dengan melihat bagaimana cara dan sistem dari masyarakat dalam melaksanakan pertaniannya maka sangatlah dibutuhkan tenaga-tenaga ahli dalam bidang pertanian untuk memberikan pendampingan dan juga pengarahan-pengarahan dalam bidang pertanian, karena pengalaman peristiwa dilapangan bahwa sebenarnya pemerintah telah memberikan bantuan kepada masyarakat dalam bidang pertanian berupa bahan-bahan untuk pertanian seperti pupuk dan lain sebagainya, namun kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa pemberian bantuan dari pemerintah kepada masyarakat hanya sebatas bantuan namun untuk proses selanjutnya bagaimana agar nantinya apa yang telah diberikan dan diterima oleh masyarakat itu akan berguna karena banyak sangat banyak bantuan tersebut mengalami kematian sebagai akibat dari tidak adanya perhatian dari pemerintah (dinas terkait) karena setelah bibit telah diterima masyarakat tidak melakukan tindak lanjut berupa pemberian penyuluhan dan juga pemanfaatan lahan masyarakat itu sendiri.

Melihat pengalaman dari masyarakat itu sendiri bahwa proses pertanian yang diterapkan oleh masyarakat adalah proses pertanian turun temurun atau dengan kata lain adalah pertanian yang tradisional tidak melaksanakan pola tanam dan sistem pertanian, dimana untuk membuka lahan yang akan dijadikan sebagai areal pertanian, hanya dengan melakukan pembabatan dan pembakaran dan selanjutnya tidak melakukan pengolahan tanah dan langsung menanam tanaman yang dinginkan jika lahan tersebut memungkinkan untuk di tanam hal ini dikarenakan masih sangat minimnya pengetahuan di bidang pertanian sehinggga pemerintah juga harus tanggap terhadap pengetahuan dari masyarakat itu sendiri. Mendengar penjelasan dari beberapa masyarakat dampingan terhadap keberadaan instansi yang terkait masyarakat, nyatalah bahwa mereka sangat membutuhkan pihak-pihak yang dapat memberikan pengarahan dan penjelasan tentang pertanian moder.

Dalam hal ini sebagaimana dengan fungsi dan peran di masyarakat semestinya pemerintah harus dapat mengetahui kendala dan permasalahan yang terjadi di lingkungan masyarakat petani. Sebagai salah satu contoh permasalahan yang terdapat di daerah dampingan dan juga daerah lainnya tentang keberadaan dari hama babi hingga sekarang pemerintah belum memberikan tindakan bahkan pelatihan terhadap masyarakat dalam menangani hama tersebut, ataupun untuk mengurangi keberadaan hama babi di areal pertanian bahkan yang sangat disesalkan bukan hanya di daerah pertanian saja bahkan di daerah pemukiman juga hama tersebut sangatlah mengganggu dan merajalela sehingga masyarakat tidak mau bertindak dalam rangka memberantas hama tersebut.

Untuk itu diharapkan untuk kedepan nantinya pemerintah yang terkait dengan pertanian dapat meningkatkan fungsi dan peran mereka dalam menunjang pembangunan dan perkembangan sektor pertaian sehingga masyarakat dapat menjadi petani yang modern dengan menerapkan sistem dan teknik pertanian secara baik dan benar dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil pertanian mereka, sehingga mereka tidak akan menjadi petani miskin yang akhirnya meninggalkan pertaniannya untuk kembali memanggul senjata

Oleh : Nober Sirait

Realitas petani di Aceh

Hari demi hari telah terlewati seiring dengan berjalannya waktu, tidak terasa telah memasuki tahun kedua di Daerah Aceh Jaya. Seiring dengan waktu sangatlah banyak kejadian-kejadian yang telah terjadi di daerah dampingan yang terdiri dari beberapa desa dimana pola hidup dan tingkat pemikiran yang sangat beragam dan berbeda. Peristiwa yang terjadi di daerah pucuk (desa pedalaman) yang dulunya adalah daerah yang mengalami permasalahan konflik. Dengan berbekal rasa kemanusiaan dan sosial KOTIB sebagai salah satu lembaga yang bergerak dalam bidang kemanusiaan secara langsung terjun ke masyarakat itu sendiri dengan tujuan untuk membantu meningkatkan perekonomian dan pola pikir dari masyarakat yang dulunya mendapatkan banyak sekali tekanan dalam menggapai cita-cita dan harapan.

Terlepas dari apa yang telah terjadi dan didukung dengan situasi dari daerah tersebut penulis mencoba untuk membuat suatu karya yang mana karya tulisan ini merupakan kejadian-kejadian dan peristiwa serta pengalaman di daerah dampingan. Berbekal program yang dilaksanakan oleh KOTIB adalah pendampingan masyarakat yang salah satunya adalah dalam bidang pertanian dimana dengan melihat kondisi dan keadaan daerah tersebut yang mana masyarakat pada umumnya adalah masyarakat yang untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah dari bertani, dimana pertanian yang dilaksanakan adalah penanaman berbagai macam jenis tanaman seperti karet, kopi, coklat, nilam dan padi serta lain sebagainya. Dengan melihat keadaaan di lapangan bahwa pada dasarnya pertanian yang dilaksanakan oleh masyarakat adalah masih secara tradisional yang mana dapat dibuktikan dengan beberapa proses pertanian tidak menerapkan system dan cara bercocok tanam yang benar sesuai dengan kondisi tanah dan jenis tanamannya.

Sebagai contoh di lahan masyarakat menunjukkan bahwa penggunaan jarak tanam sangat tidak diperhatikan sehingga terdapat tanaman yang ditanam sangat rapat bahkan dalam proses pemeliharaannya sangat susah untuk dilakukan sehingga dengan demikkian pemeliharaan dan perawatan tersebut tidak berjalan dengan baik yang mengakibatkan tanaman tersebut akan mengalami pertumbuhan yang kurang baik.

Setelah melihat dan mempelajari bahwa sebenarnya daerah dampingan memiliki potensi untuk berkembang dalam sektor pertanian hal ini didukung tersedia dan banyak lahan yang sangat kosong dan pada kenyataannya masyarakat tidak mau untuk memanfaatkan untuk menjadikan areal pertanian secara terorganisir dan hanya melakukan proses pertanian dengan melakukan penanaman suatu jenis dan kemudian menunggu hingga saatnya akan panen telah tiba, dengan memperhatikan hal tersebut KOTIB yang sangat prihatin akan kondisi tersebut mencoba untuk memberikan penjelasan dan pengertian melalui pelaksanaan pelatihan dan pembelajaran di lapangan tentang proses pertanian yang sebenarnya. Salah satu upaya yang dilaksanakan oleh KOTIB adalah pemberian bantuan berupa bibit tanaman yang nantinya akan memberikan manfaat bagi masyarakat itu sendiri dan dalam proses pemberian bantuan tersebut.

KOTIB juga melakukan pengawasan dan memberikan pengetahuan dalam hal budidaya pertanian melalui pendampingan hingga ke lahan pertanian. Dari pendampingan yang dilaksanakan KOTIB berbagai cara telah dilaksanakan seperti pemberian tentang penjelasan bagaimana melakukan kegiatan pertanian sebelum dan pada saat tanaman tersebut tumbuh hingga akhirnya nantinya dapat menghasilkan. Salah satu contoh yang dijelaskan adalah bahwa dalam proses pertanian sangatlah perlu dilaksanakan proses pengolahan tanah sebelum tanam seperti penggemburan tanah melalalui pembalikan tanah dengan cara mencangkul atau melakukan pembajakan yang bertujuan untuk menjaga tingkat kesuburan tanah tetap terjaga dan unsur kandungan makanan tetap akan tersedia. Hal ini dilakukan oleh karena sebelumnya bahwa masyarakat melakukan proses pertanian dengan tidak menggunakan pola tanam seperti jarak tanaman yang dipergunakan untuk setiap jenis tanaman sesuai dengan sistem pertanian yang dilakukan.

Sebagaimana dengan pendampingan yang dilaksanakan di masyarakat hal yang sungguh sangat disayangkan adalah antusias dan keinginan dari masyarakat tersebut yang memang sangat perlu untuk dilakukan kegiatan-kegiatan dalam konteks penguatan terhadap sikap dan juga keinginan bertani sehingga mereka dapat dikatakan sebagai petani karena hal ini merupakan salah satu faktor untuk menunjang kegiatan pertanian di lingkungan masyarakat dampingan. Sebagai salah satu faktor yang menjadikan bahwa potensi lahan tersebut sangat baik adalah dimana masyarakat dalam penggunaan bahan kimia seperti pupuk sangatlah kecil sekali jika dibandingkan dengan daerah-daerah pertanian lainnya di luar kawasan Aceh Jaya dan juga di propinsi-propinsi lain.

Dengan melihat kenyataan di lapangan dan juga daerah lahan pertanian masyarakat khususnya untuk jenis tanaman perkebunan bahwa letaknya berada di daerah perbukitan dan pegunungan sehingga sangat banyak kendala yang dihadapi dalam proses pemeliharaan dan salah satu contoh adalah hama babi hutan dimana hama tersebut dapat mengakibatkan dampak yang sangat besar bagi pertumbuhan tanaman yang baru ditanam, sebagai contoh untuk bibit karet yang diberikan KOTIB masyarakat melakukan penanaman dan setelah ditanam sangat banyak bibit yang mengalami kerusakan bahkan mengakibatkan banyak tanaman yang mati akibat diserang oleh hama babi dimana hama babi merusak dengan cara membongkar tananaman yang bau di tanam bahkan sampi memakan daun tanaman yang masih muda (baru di tanam). Untuk jenis tanaman lain juga demikian apabila tidak di makan maka hama tersebut merusak dengan cara membongkar tanaman tanah yang mengakibatkan tanaman tercabut. Selain hama babi yang merusak tanaman gajah dan monyet juga faktor yang merugikan bati masyarakat petani di wilayah dampingan.

Oleh : Nober Sirait

Selanjutnya : Dimana Fungsi dan Peran Pemerintah (Dinas Pertanian)

Potret Sisi Gelap Kehidupan Perempuan Aceh

Ketika mendengar kata Perempuan banyak orang akan tergiring dalam pola pikir bahwa perempuan adalah insan yang rapuh baik secara fisik maupun mental. Perempuan dinilai tidak mampu mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga. Perempuan juga dinilai tidak mampu menjadi seorang pemimpin karena dianggap lebih menonjolkan sisi perasaan ketimbang logika. Anggapan tersebut hingga saat ini masih diamini baik oleh kaum laki-laki maupun kaum perempuan sendiri. Bias pekerjaan tersebut lama-kelamaan membuat posisi perempuan terdegradasi dibawah dominasi kaum laki-laki. Padahal jika kita berpikir arif, begitu banyak peran yang diambil oleh perempuan sampai pada hal yang terkecil seperti pekerjaan domestik rumah tangga. Tidak jarang perempuan juga menjadi ujung tombak dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Beban kerja yang dikerjakan kaum perempuan justru sering melebihi beban kerja kaum laki-laki. Hal ini tidak hanya terjadi di satu tempat atau daerah tetapi juga terjadi di berbagai daerah termasuk Aceh Jaya.

Setelah 6 (enam ) bulan penulis berada di Aceh Jaya, penulis melihat langsung potret atatu aktivitas kehidupan perempuan Aceh. Stigma kaum perempuan yang lemah tidak terbukti. Dalam 1 (satu) hari kaum perempuan melakukan seluruh pekerjaannya hingga memakan waktu 13 jam. Setelah shalat subuh hingga pukul 8, khususnya seorang Ibu rumah tangga akan melakukan pekerjaan rumah seperti memasak sarapan mengantar anak ke sekolah hingga membersihkan rumah. Pukul 8 hingga pukul 12 siang bersama suami pergi ke Ladang atau kebun bersama. Setelah itu kaum perempuan harus menyiapkan makan siang untuk keluarganya, aktivitas ini biasanya dilakukan pada jam 12 hingga jam 14. Setelah itu perempuan melakukan aktivitas seperti membersihkan rumah, memasak, mencuci pakaian, dan mengurus anak. Pada pukul 16 hingga pukul 18 Aktivitas seperti memasak untuk makan malam wajib dilakukan. Dalam kehidupan bersosial, kaum perempuan tetap diposisikan sebagai warga kelas dibawah kaum laki-laki. Mulai dari cara berpakaian hingga jam keluar malam telah diatur secara tidak tertulis.

Berbeda dengan peran seorang Suami. Setelah pulang dan memakan masakan sang istri atau anak perempuannya, kaum laki-laki bisa memilih antara beristirahat di rumah atau pergi ke warung untuk minum kopi. Kondisi ini sepertinya telah menjadi kebiasaan masyarakat hingga menjadi sebuah rutinitas sehari-hari. Di tengah kondisi seperti ini, perempuan Aceh hanya mampu mengeluh dengan kondisi yang mereka alami sehari-hari. “bagaimana mungkin, habis waktu hanya untuk mengerjakan mencuci, menggosok, masak, ngurus anak”. Ujar seorang Ibu ketika diajak berdiskusi tentang upaya pengembangan sumber daya perempuan di Aceh.

Fenomena diatas berdampak negatif bagi anak perempuan diusia sekolah. Mereka beranggapan mengecap pendidikan hingga perguruan tinggi tidak berguna karena pada akhirnya ilmu yang mereka dapat tidak dapat diterapkan baik di lingkungan kerja ataupun di masyarakt sekitar. Tidak jarang, anak-anak perempuan Aceh harus putus sekolah ditengah jalan karena terpaksa menikah. Kondisi ini tentu saja bertolak belakang dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki daerah Aceh.

Pertanyaan mendasar, mampukah kaum perempuan keluar dari ketertinggalannya?. Pertanyaan tersebut hanya dapat dijawab ketika setiap elemen bangsa ini duduk bersama menemukan jalan keluar sambil menanggalkan kesombongan kelompoknya untuk kemajuan bangsa seluruh rakyat terutama kaum perempuan yang selama ini terpinggirkan.

Oleh : Debora

Pesan Untuk Partai Lokal Di Aceh

Bencana Tsunami yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam menjadi awal dari perdamaian atas konflik yang sudah terjadi selama puluhan tahun di bumi serambi Mekah.Perjanjian Damai yang diwujudkan dalam MOU Helsinki yang di tandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 menjadi awal sejarah yang baru bagi perdamaian Aceh walaupun terjadi di tengah awal proses rekonstruksi dan rehabilitasi paska bencana gempa bumi dan tsunami.

Perjanjian Helsinki mengakhiri konflik yang terjadi antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia menjadi sejarah baru bagi perjalanan Aceh ke depan, walaupun MOU tersebut hanya merupakan Deal politik yang harus tunduk kepada UU yang mengatur dari Point-point yang telah di sepakati dalam MOU tersebut.

Salah satu poin dari perjanian Helsinki adalah tentang pendirian Partai Lokal di NAD yang bertujuan untuk menampung aspirasi dari masyarakat. Pendirian partai local akan membuat dinamika politik yang terjadi di NAD bisa sangat memanas karena munculnya partai local merupakan buah dari ketidak percayaan kepada Partai yang berbasis nasional. Partai local merupakan sesuatu yang baru di NAD secara khusus dan Indonesia secara umum, sehingga perlu untuk mengetahui bagaimana kiprah partai local sebagai salah satu media pendidikan politik bagi rakyat pasca pemilu 8 April 2009.

Saat ini merupakan masa-masa yang baru bagi masyarakat yang akan datang ke NAD, kalau mungkin dulu di masa darurat militer di sepanjang jalan akan dijumpai banyak militer yang berdiri di sepanjang jalan dengan moncong senjata yang siap untuk memuntahkan pelurunya. Tapi itu hanya masa lalu, sekarang ketika kita melakukan perjalanan di sepanjang jalan akan banyak kita lihat poster-poster yang memberikan senyuman walaupun pada ujung-ujungnya akan menyuruh kita agar mencontreng yang memberikan senyuman pada pemilu yang akan datang.

Adanya 6 (Enam) partai lokal yang ada di NAD tentunya akan memunculkan pertanyaan di pikiran kita masing-masing seperti apa kiprah partai local bertarung menjadi pejabat politik (Politisi) dengan politisi-politisi yang ada di partai nasional dan bagaimana konsep para petarung tersebut dalam membuat produk hukum dalam rangka melanjutkan pembangunan NAD setelah bencana tsunami.

Pentingnya Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia merupakan salah satu elemen yang penting dalam hal terjun ke dunia politik yang terkenal dengan istilah “tidak ada kawan yang abadi, tapi yang ada adalah kepentingan yang abadi” . Kenapa sumber daya manusia perlu dibahas? karena dalam mendirikan sebuah partai tentunya tidak bisa lepas dari hal tersebut. Apalagi kita tahu bahwa orang-orang dari partai lokal yang terbentuk sekarang ini secara tidak langsung telah terdidik oleh suasana Daerah Operasi Militer (DOM) yang sedikit banyaknya mempengaruhi pembentukan karakter manusia di wilayah tersebut.

Pembangunan NAD ke depan akan sangat tergantung kepada partai lokal yang telah ada sekarang ini, untuk itu sangat banyak harapan masyarakat yang digantungkan kepada partai lokal yang ada sekarang. Yang menjadi pertanyaan apakah partai lokal bisa membawa aspirasi masyarakat dengan kondisi sumber daya manusia yang pas – pasan? Pertanyaan ini muncul bukan karena pesimis terhadap keberadaan partai lokal dalam membawa aspirasi masyarakat tapi melihat realita yang terjadi.

Mungkin kalau kita kembali ke masa yang lampau akan teringat dengan pernyataan-pernyataan yang mengatakan bahwa NAD atau Daerah Istimewa Aceh tidak pernah diberikan anggaran yang besar untuk pembangunan Aceh. Tapi yang dulu diteriakkan tentang kurangnya anggaran telah terjawab sekarang dengan melimpahnya anggaran dari pusat kepada NAD yang termasuk daerah dengan otonomi khusus. Tapi yang terjadi di beberapa kabupaten yang ada di NAD dan malah provinsinya sendiri tidak bisa mengelola keuangan yang telah di anggarkan. Hal ini bisa kelihatan dari rendahnya daya serap anggaran yang tidak sampai 60 % pada tahun 2008.

Kejadian yang terbaru malah APBA yang di koreksi oleh Mendagri telah disahkan tanpa perbaikan (ada koreksi yang dilakukan oleh Mendagri selaku pemrintah Pusat). Kejadian ini malah memunculkan pertanyaan apakah para pejabat di NAD sekarang ini sudah tidak lagi mengakui pemerintah pusat paska pemberian otonomi khusus atau memang karena sumber daya manusia yang kurang dari pemerintah propinsi NAD atau perbaikan yang diusulkan oleh Mendagri tidak berpihak pada masyarakat?. Melihat peristiwa-peristiwa di atas tentunya kita sangat berharap pada peranan partai lokal ini nantinya untuk memberikan yang terbaik kepada warga Aceh.

Strategi Mendapatkan Pemilih

Paska MOU Helsinki sebagian besar masyarakat masih memiliki keterikatan dengan simbol-simbol dan keterikatan kelompok. Kelompok massa inilah yng kini menjadi rebutan, sayangnya kelompok massa yang menjadi incaran kontentan pemilu ini adalah yang disebut kelompok mayoritas. Kelompok mayoritas ini masih buta politik dan kebanyakan mengenyam pendidikan alakadarnya. Maka, realitistiskah jika berharap bisa mendidik rakyat yang pendidikannya terbatas agar bisa memahami politik dalam waktu yang begitu singkat? Padahal Pemilu 2009 ini diharapkan menjadi satu pemilu yang lebih berkualitas paska konflik.

Sejak sekarang hendaknya ada kesadaran untuk bisa menerima perbedaan pendapat secara terbuka dan adil. Karena di mata masyarakat pemilih partai lokal atau partai nasional sama saja yang penting yang menjadi incaran pemilih adalah siapa yang bisa menampung aspirasi mereka. Makanya bagi peserta pemilu, terutama para caleg, dalam kondisi sekarang yang paling tepat adalah menunjukkan sikap cerdas dan bermartabat dihadapan konstituen.

Kalau politik disepakati sebagai upaya terus menerus untuk memberdayakan dan mencerdaskan masyarakat dan bangsa kita, maka peran itulah yang harus ditunjukkan oleh partai lokal. Jangan sampai sepeti yang terjadi selama ini yang paling menonjol di balik fenomena kehidupan partai politik adalah bagaimana merebut dan mempertahankan kekuasaan.

oleh : Batanggor