Saturday, October 17, 2009

Pelayanan Kesehatan Gratis Dari Kotib di Nias

Pengobatan tidak hanya dilakukan di balai kesehatan, namun staff kesehatan juga memberikan pengobatan sampai ke Desa Lolosoni, desa ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki melintasi sungai dan bukit-bukit sepanjang lebih kurang 5 Kilometer, pengobatan di Desa ini dilakukan sebanyak 2 kali dalam satu bulan
Kotib telah membuka satu unit balai pengobatan di Desa Sirahia Kecamatan Gomo Kabupaten Nias Selatan sejak tahun 2008 yang lalu, hal ini dilakukan untuk mendukung kesehatan masyarakat dan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi penduduk di desa terpencil khususnya bagi masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan.

Ratusan masyarakat telah memanfaatkan balai pengobatan ini, sebagian besar dari mereka adalah orang tua, perempuan dan anak-anak, kelompok ini adalah kelompok yang sangat rentan terserang penyakit. Balai kesehatan Kotib ini difasilitasi dengan alat kesehatan yang sederhana, obat-obatan dan satu orang staff kesehatan yang mampu memberikan pertolongan pertama kepada masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis.

Jika masyarakat menderita penyakit yang lebih parah, maka Kotib akan merekomendasikannya ke rumah sakit pemerintah yang terdapat di Kota Gunung Sitoli. Namun, karena jarak yang sangat jauh, maka setiap masyarakat yang akan mendapatkan pertolongan medis tentu harus mendapatkan pertolongan pertama, itulah peran Kotib.

Selain itu, balai kesehatan Kotib juga melayani masyarakat yang menderita penyakit demam, batuk, pilek, Hipertensi & Hipotensi, GE/Magh, Dermatitis/luka  dan melayani masyarakat yang ingin ber KB. Pengobatan tidak hanya dilakukan di balai kesehatan, namun staff kesehatan juga memberikan pengobatan sampai ke Desa Lolosoni, desa ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki melintasi sungai dan bukit-bukit sepanjang lebih kurang 5 Kilometer, pengobatan di Desa ini dilakukan sebanyak 2 kali dalam satu bulan.

Seluruh biaya pengobatan dan obat-obatan yang diberikan gratis, pasien hanya diwajibkan membayar pengganti kartu pasien sebesar Rp. 2000,- sekali seumur hidup. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat menjaga dan merawat kartu pasien tersebut, sehingga staff kesehatan tidak kesulitan untuk mengidentifikasi data pasien. Seluruh aktifitas tersebut dilakukan oleh Kotib dengan dukungan penuh dari The Johanniter, suatu lembaga yang sangat peduli dengan kesehatan khususnya kesehatan anak-anak dan perempuan.

Uang Lauk Pauk untuk Korban Gempa

Selama masa tanggap darurat ini, pemenuhan kebutuhan dasar seperti beras dan uang lauk pauk telah disiapkan. Setiap orang memperoleh beras sebanyak 400 gram dan uang lauk pauk Rp5.000 per hari. Persediaan beras mencapai 13 ribu ton dan cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 4 bulan.

Selain pangan, kebutuhan dasar lainnya berupa pasokan air bersih, energi listrik, dan telekomunikasi telah kembali normal. Untuk tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, pemerintah mempertimbangkan untuk mengkombinasikan model pembangunan pascagempa di Yogyakarta dan Aceh dengan mengakomodasi nilai kultural Sumbar.

Pemerintah belum memutuskan untuk menghentikan proses tanggap darurat pascabencana di Sumatera Barat (Sumbar), dua pekan setelah gempa berkekuatan 7,9 SR yang merenggut korban jiwa mencapai 1.117 orang. Demikian yang disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif seusai sidang kabinet terbatas dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta, Kamis (15/10) yang dikutip dari website BNPB.

Sementara itu Presiden Yudhoyono dalam rapat tersebut mengharapkan setelah semua dilaksanakan, kondisi Sumbar dan Jambi bukan hanya pulih dari bencana tetapi lebih siap andaikata terjadi bencana serupa dengan pembangunan gedung-gedung yang lebih tahan gempa, kesiapan mental warganya yang lebih baik dan respons terhadap bencana pada jam-jam awal yang lebih baik.

Rapat terbatas dihadiri oleh Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menko Polhukam Widodo AS, Menkeu/pelaksana tugas Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Mensesneg Hatta Rajasa, Menkum HAM Andi Mattalata, Menteri PU Djoko Kirmanto, Menkes Siti Fadilah Supari, Mendagri Mardiyanto, Menhub Jusman Syafei Djamal, Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta, Mendiknas Bambang Sudibyo, Menkominfo Muhammad Nuh, Meneg BUMN Sofyan Djalil, Menlu Hassan Wirajuda dan Seskab Sudi Silalahi, serta Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso dan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi dan Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin.

CU-Kemandirian itu dimulai dari Gomo

mereka yang membentuk kelompok Credit Union (CU). Kelompok ini terdiri dari mayoritas perempuan, yang sangat memiliki potensi untuk menabung demi keberlangsungan hidup anak-anak dan keluarganya
Masyarakat di desa tersebut selama ini dianggap tidak mampu, mereka memang mayoritas terdiri dari petani yang masih hidup dalam kemiskinan. Namun anggapan itu dilawan oleh aktivitas mereka yang membentuk kelompok Credit Union (CU). Kelompok ini terdiri dari mayoritas perempuan, yang sangat memiliki potensi untuk menabung demi keberlangsungan hidup anak-anak dan keluarganya.
Dimulai dari rasa saling percaya, masyarakat yang belum terbiasa untuk berorganisasi tersebut mulai belajar berdiskusi, belajar mengenai pembukuan CU, belajar manfaat CU dan belajar membaca dan berhitung, bagaimana tidak, sebagian besar dari mereka belum mampu untuk membaca dan menulis, mereka masih banyak yang buta huruf.

Namun, kondisi tersebut tidak membuat tim Kotib di Nias Selatan menjadi jera, mereka dengan sabar memberikan diskusi, pelatihan dan penjelasan mengenai CU dan manfaatnya. Tidak tanggung-tanggung, trainer dari daerah lain didatangkan untuk memberikan pendidikan CU tersebut. Hasilnya, saat ini telah terbentuk 3 Kelompok CU di desa pedalaman Kecamatan Gomo Kabupaten Nias Selatan. Simpanan mereka mencapai ratusan juta, ratusan anggotanya telah merasakan manfaat dari CU tersebut. Mereka bisa menyimpan dan meminjam uang untuk keperluan sekolah anak-anak mereka, untuk mengembangkan usaha pertanian dan untuk memperbaiki rumah mereka. Semua itu tidak bisa mereka bayangkan sebelumnya.

Ketiga Kelompok Credit Union tersebut adalah: 
  1. CU Samaeri beranggotakan sebanyak 166 orang dengan simpanan sebesar Rp. 181.000.000 (seratus delapan puluh satu juta rupiah).
  2. CU Fanolo beranggotakan sebanyak 86 orang dengan simpanan sebesar Rp.21.000.000,- (dua puluh satu juta rupiah)
  3. CU Sondorogo beranggotakan sebanyak 28 orang dengan simpanan sebesar Rp. 4.900. 000,- (empat juta sembilan ratus ribu rupiah).
Harapan kelompok CU ini adalah mereka dapat melanjutkan usaha ekonomi mereka, kelompok CU semakin baik manajemennya, dan pengetahuan mereka semakin bertambah, mereka juga mengharapkan pemerintah untuk memberikan dukungan baik berupa dana maupun program pengembangan masyarakat lainnya yang dapat mereka terapkan melalui kelompok CU tersebut.

Nutrisi Tambahan Untuk Anak di Desa Terpencil

pemberian nutrisi ini diutamakan kepada anak-anak yang kurang gizi yang duduk di kelas 1 dan kelas 2 Sekolah Dasar.
Anak-anak di Lima desa terpencil Nias Selatan terlihat sangat gembira menerima nutrisi tambahan yang diberikan oleh Kotib. Nutrisi tambahan yang diberikan adalah susu cair 250 ml, bubur kacang hijau dan roti.

Untuk periode tahun 2009 ini,roti akan digantikan dengan makanan lokal yang lebih bergizi. Nutrisi diberikan sebanyak 2 kali dalam seminggu, pemberian nutrisi ini diutamakan kepada anak-anak yang kurang gizi yang duduk di kelas 1 dan kelas 2 Sekolah Dasar.
Dengan adanya pemberian nutrisi tambahan ini, orangtua maupun guru-guru mengakui bahwa anak-anak semakin rajin datang ke sekolah dan harapan mereka semoga pasokan gizi tersebut akan meningkatkan kecerdasan anak-anak mereka.
Pemberian nutrisi ini telah diberikan sejak tahun 2007 yang didukung penuh oleh lembaga The Johanniter. Kotib sengaja memilih daerah ini sebagai wilayah kerjanya, karena wilayah ini masih sangat terpencil dan rentan terhadap kekurangan gizi.

Sampai bulan April 2009 nutrisi ini diberikan kepada anak-anak di Desa Lahusa Idanotae sebanyak 560 orang, Desa Hilimbowo sebanyak 572 orang, Desa Sirahia sebanyak 435 orang, Desa Umbu Idanotae sebanyak 624 orang dan Desa Lolosoni sebanyak 578 orang. Dengan adanya pemberian nutrisi tambahan ini, orangtua maupun guru-guru mengakui bahwa anak-anak semakin rajin datang ke sekolah dan harapan mereka semoga pasokan gizi tersebut akan meningkatkan kecerdasan anak-anak mereka.

Usaha Bersama Kopi Aceh Paska Tsunami

Kelompok Bisnis yang dibangun oleh Darlina adalah kelompok “Bina Beusaree” dari bahasa Aceh,
Darlina (38 tahun), dengan bangga mengatakan bahwa saat ini mereka telah memiliki kelompok yang terdiri dari 18 orang perempuan yang mampu menghasilkan keuntungan dari aktivitas membuat kopi khas Aceh. Bubuk kopi yang mereka buat akan dipasarkan dengan harga Rp. 28.000,- per Kilogram. Kopi yang dihasilkan saat ini dipasarkan hanya di Desa Ladang Baroo, tapi mereka percaya akan dapat mempromosikan kopi tersebut sampai ke luar Aceh.

Kelompok Bisnis yang dibangun oleh Darlina adalah kelompok “Bina Beusaree” dari bahasa Aceh, Beusare yang artinya adalah Besar. Kelompok ini telah mulai dibentuk sejak bulan November tahun 2008 yang lalu.  Bermodalkan semangat dan dorongan dari tim Kotib, yang mendampingi mereka, akhirnya terbentuklah kelompok yang terdiri dari ibu-ibu yang selama ini tidak memiliki kesibukan selain pekerjaan rumah tangga.

“Saat ini kami mampu menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 7.000.000,-  hanya dalam waktu delapan bulan” ujar Darlina. Keuntungan tersebut mereka bagi kepada setiap anggota kelompok, dan sebagian dari keuntungan tersebut

disisihkan untuk simpanan bersama. Kelompok ini mengaku mampu menggiling bubuk kopi sebanyak 36 Kilogram dalam sekali penggilingan, saat ini mereka melakukan kegiatan penggilingan hanya 3 kali dalam satu bulan.

Mereka merasa beruntung dengan adanya pemberian mesin penggiling kopi dari Kotib, sehingga mereka bisa memulai kegiatan usaha bersama. Sebelum ada kelompok ini, mereka tidak banyak memiliki kegiatan lain. Saat ini, dengan modal membeli biji kopi seharga Rp. 21.000,- per Kilogram, mereka dapat menghasilkan 3 Kilogram bubuk kopi. Rahasianya adalah, 1 Kilogram bubuk kopi akan dicampur dengan 2 Kilogram beras dan 3 ons gula, campuran ini akan dimasak terlebih dahulu dan akhirnya digiling secara bersamaan. Campuran beras diyakini akan menambah cita rasa dari bubuk kopi dan menambah fungsi obat bubuk kopi yang dihasilkan, “orang tua dahulu sering mengeringkan dan memanggang beras untuk kemudian digiling, diseduh untuk mengobati orang yang sakit perut”. Ujar Juliati, bendahara untuk kelompok ini.

Kelompok ini berharap memiliki jaringan pemasaran sampai keluar Aceh, yang akhirnya akan membuat tempat tinggal mereka, Desa Ladang Baroo Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya menjadi salah satu daerah penghasil kopi Aceh yang terbaik, kopi kampong, demikian mereka menyebut kopi yang asli dari Aceh. Mereka mengaku kegiatan usaha bersama ini membuat mereka bisa saling berinteraksi satu sama lain dan memiliki kegiatan positif yang dapat memulihkan kondisi mereka setelah sebelumnya porak poranda dilanda oleh tsunami.

Darlina juga memberikan rahasia penggilingan kopi mereka, semakin kecil dan semakin matang biji kopi akan semakin baik bubuk yang dihasilkan, bagaimana kita memasaknya dan menentukan takaran campurannya, itulah kunci membuat bubuk kopi. Mereka biasanya menakar biji kopi dengan satuan bamboo, satu bamboo sama dengan 1,3 Kilogram. Darlina dan kawan-kawan berharap apa yang mereka mulai ini akan memberikan manfaat ekonomi untuk keluarga, desa dan kampung halaman mereka, sehingga mereka bisa lepas dari keterpurukan paska tsunami.

Saturday, October 10, 2009

Study Tour Anak-anak dari Desa Terpencil Nias Selatan

Siapa bilang study tour hanya bisa dilakukan oleh anggota DPR, Bupati dan Gubernur. Anak-anak di desa terpencil Kecamatan Gomo Kabupaten Nias Selatan ternyata juga bisa melakukan study tour
Siapa bilang study tour hanya bisa dilakukan oleh anggota DPR, Bupati dan Gubernur. Anak-anak di desa terpencil Kecamatan Gomo Kabupaten Nias Selatan ternyata juga bisa melakukan study tour, bedanya adalah, jika pejabat melakukan study tour terkesan untuk kesenangan saja, kalau anak-anak ini melakukan study tour memang untuk belajar mengetahui informasi dari luar desa mereka yang sangat terpencil, bahkan ada yang harus berjalan kaki 5 Kilometer untuk keluar dari desanya agar bisa mengikuti study tour ini.

Pesertanya juga bukan main, 50 orang anak-anak, semua bersukacita dengan adanya kegiatan ini. Bayangkan saja, inilah perjalanan terjauh seluruh peserta dari desanya masing-masing, orangtua anak-anak tersebut tampak bangga saat mengantar anaknya ke titik kumpul yang ditentukan.

Rombongan ini berangkat pada hari senin, 23 Maret 2009. pukul 13.30 sudah tiba di Laverna, Gunung Sitoli untuk istirahat dan sekaligus makan siang. Selanjutnya pada pukul 14.30 berangkat ke museum pusaka dengan menyewaangkutan. Hal pertama yang dilakukan anak-anak yaitu langsung membentuk kelompok belajar sesuai dengan tempat belajar yang dibangun Kotib di 5 desa, TPTG demikian mereka menyebutnya, kependekan dari Tempat Pendidikan Tambahan Gratis. Jadi ada 5 kelompok belajar pada hari itu, anak-anak diminta mencatat sebanyak-banyaknya nama-nama tumbuhan dan hewan yang mereka temui. Masing-masing kelompok didampingi staf Kotib dan juga guru pendamping.

Mereka langsung menyebar ke segala penjuru. Waktu yang dibutuhkan untuk ini adalah 30 menit. Selanjutnya rombongan menuju gedung pameran. Disini anak-anak dibagi petugas menjadi dua kelompok. Hal ini dibuat karena angka 50 sangat tidak mungkin ditangani oleh satu orang guide. Di dalam gedung ini sangat banyak hal yang diketahui oleh peserta mulai dari cara berpakaian orang tempo dulu, hingga kepada adat-istiadat suku Nias yang memang lain desa lain pula tradisinya. Sangat banyak pengetahuan yang mereka peroleh. Guru-guru yang mendampingi anak-anak juga antusias mendengarkan penjelasan yang diberikan guide. Ternyata mereka juga baru pertama ini mengunjungi museum. Kedengaran aneh sebenarnya, padahal mereka kan penduduk asli Nias? Tapi ini kenyataan, betapa rakyat kita sangat terbatas ekonominya untuk dapat mengunjungi tempat bersejarah saja banyak diantara kita yang tidak mampu melakukannya, padahal ini penting untuk mengetahui awal dan tujuan kita bersatu.

Rombongan kembali ke Laverna pada pukul 18.00 untuk istirahat sekaligus makan malam. Sebenarnya pada malam hari akan diadakan kegiatan di aula. Akan tetapi melihat kondisi anak-anak yang kelelahan, akhirnya kegiatan ditunda hingga keesokan harinya.
Keesookan harinya pada tanggal 24 Maret 2009, kegiatan dimulai pukul 09.00 pagi. Kegiatan ini diawali dengan berbagi pengalaman kemarin waktu mengunjungi museum. Selanjutnya anak-anak saling memperkenalkan diri dan setiap TPTG membawakan yel-yel TPTGnya. Seruuu sekali. Selanjutnya anak-anak dan juga guru diminta menceritakan kembali pengalamannya selama mengunjungi museum. Hal ini dibuat untuk menggali kembali sampai dimana daya ingat anak-anak tentang apa yang sudah mereka lihat.
Lalu kegiatan terakhir adalah acara menggambar. Anak-anak disuruh menggambar apa saja yang mereka ingat dan lihat di museum. Semuanya mereka gambar. Nah, yang lukisannya paling bagus akan mendapat bingkisan menarik dari KOTIB. Sst.....isinya hanyalah roti , hehehe....:)

Pada pukul 13.30 rombongan meninggalkan Laverna untuk kembali ke Gomo desa tercinta mereka. Namun karena kondisi hujan, jalan menjadi becek dan rombongan tertahan selama berjam-jam di jalan antara Lahusa-Gomo. Rombongan sampai di Gomo pada pukul 20.00.setelah istirahat sejenak sambil makan indomie, rombongan diantar naik truk sampai ke desa Tetegewo. Ternyata seluruh orang tua anak-anak sudah menanti anaknya disana. Awalnya kami khawatir mereka marah dan komplain, tetapi hal ini tidak terjadi. Mereka juga sudah maklum kondisi jalan di Gomo, sangat rusak parah, bahkan belum bisa dilalui oleh mobil saat tulisan ini dibuat.

Tindak lanjut dari kegiatan ini adalah setiap staf yang mengajar di TPTG Kotib meminta anak-anak yang ikut untuk menuliskan kembali pengalamannya dalam bahasa mereka sendiri. Mungkin ini berguna nantinya sebagai bahan kita kedepan, anak-anak itu melakukan segalanya dengan mandiri, ternyata mereka mampu menuliskan apa yang mereka alami, ini jauh berbeda jika mereka diminta menuliskan tentang sesuatu yang belum pernah dialaminya. Diantara tulisan itu terdapat kata-kata, “Terimakasih untuk guru Kotib dan juga kepada The Johanniter, kami semakin mencintai Nias dengan melihat Museum Pusaka yang dibangun oleh Pastor Johannes M Hammerle, OFMCap di Gunung Sitoli, semoga kami bisa menunjukkan kepada dunia, bahwa Nias penuh dengan sejarah”. Semoga.

Gunung Ujeun Aceh Jaya, menjanjikan atau meragukan?

dialog publik yang bertema Pengelolaan pertambangan emas Gunung Ujeun berbasis masyarakat di Aceh Jaya
Pada tanggal 18 Agustus 2009 yang lalu, KOTIB mengadakan dialog publik yang bertema Pengelolaan pertambangan emas Gunung Ujeun berbasis masyarakat di Aceh Jaya. Tujuan dari dialog ini adalah untuk mengingatkan masyarakat akan ancaman keselamatan jiwanya karena menambang dengan pola tradisional, ancaman kerusakan lingkungan dari kegiatan pertambangan, ancaman terkontaminasi logam berat karena menggunakan merkuri dan ancaman datangnya investor untuk menguasai tambang emas di wilayah tersebut.

Dialog ini adalah bentuk kepedulian KOTIB terhadap nasib para penambang yang terancam kehidupannya atas ancaman yang disebutkan tadi. Mereka hanya bermodalkan semangat, ingin cepat mendapatkan uang, rasa penasaran dan pengetahuan yang seadanya. Dialog ini menghadirkan aktivis tambang nasional, Hendrik Siregar dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Jaya dan pembicara Bappedal Provinsi Aceh. Hadir dalam dialog ini pemuka masyarakat dari Kecamatan Panga dan Krueng Sabee, para penambang, penggiling batu yang mengandung emas dan organisasi lain yang juga bekerja di wilayah Aceh Jaya.

Sejak dibuka September 2008, Gunung Ujeun pun beralih fungsi yang dulunya adalah  sang penjaga ekosistem pun mulai rusak. Penggalian disana sini untuk mendapatkan bijih emas merusak fungsinya. Penebangan hutan dan menggali terowongan sedalam lebih dari 30 m menjadi pemandangan yang lazim di Gunung Ujeun yang berada di desa Panggong, salah satu desa dampingan KOTIB. Kerusakan ini tak dapat dielakkan dan pasti terjadi di daerah pertambangan. Tak peduli siapapun yang mengelelola, perusahaan besar ataupun masyarkat biasa. Perbedaannya hanya terletak pada masa atau waktu yang dibutuhkan untuk merusaknya.

Tulisan ini sedang tidak membicarakan kerusakan lingkungan, namun dampak lain yang juga menjadi perhatian. Dampak terhadap kondisi ekonomi masyarakat yang nantinya sangat mempengaruhi kesejahteraan mereka. Apakah pertambangan ini sudah menjawab kondisi itu? Ada perubahan besarkah? Apakah berbanding terbalik pada saat pertama diketahui tentang keberadaannya?.

Dari hasil survey yang dilakukan KOTIB pada bulan Juni sampai Agustus terhadap 96 responden yang dibagi dalam 5 kategori, penambang, penggiling, masyarakat sekitar dan lainnya menunjukkan adanya perubahan terhadap perekonomian. Perubahan yang ditunjukkan adalah kurva menaik, dengan kata lain meningkatkan ekonomi keluarga. Sayangnya peningkatan ini pun menjadi tidak valid ketika melihat kembali kepada kondisi rill mereka.

Kondisi rill ini dapat dicontohkan dari total pengeluaran mereka dengan pendapatan mereka. Kata untung-untungan masih tetap harus dilekatkan pada mereka, karena nanti hasil menambang itu tak ada kepastian. Kemungkinan pulang dengan tangan berisi hanya sekitar 20%, jika dibandingkan pulang dengan tangan kosong yang mencapai 80%. Sangat disayangkan.

Namun kondisi ini tidak mengurangi jumlah penambang. Malahan mengadu nasib di Gunung Ujeun menjadi trend di masyarakat kabupaten Aceh Jaya saat ini. Mereka meninggalkan lahan pertanian mereka dan memilih ke Gunung Ujeun. Medan yang sulit diitempuh, kondisi kerja yang berat dibandingkan dengan bertani tak menyurutkan semangat untuk menambang. Lebih parahnya, masyarakat yang menjadi penambang tadi pun tak segan-segan mengeluarkan modal yang besar untuk melancarkan profesi barunya.

Hal yang terakhir berbanding terbalik dengan kondisi ketika mereka masih bertani. Kesulitan dana menjadi alasan tidak berkembangnya pertanian mereka. Masyarakat tak gigih mencari modal untuk bertani, jika dibandingkan dengan mencari modal untuk menambang. Sangat disayangkan. Penambang dadakan ini tak segan-segan berhutang banyak untuk modal menambang, walaupun hasil belum tentu ada. Dana yang dikumpulkan tak tanggung-tanggung, mencapai lebih dari Rp. 5 juta per orang. Mampu mendapatkan modal sebegitu banyak? Nyatanya, toh mereka tetap menambang. Perjudian hidup pun dimulai.

Pengamatan langsung terhadap penambang dadakan menunjukkan tidak ada perubahan signifikan. Beberapa diantara mereka mengatakan sebenarnya kebanyakan pemasukan penambang belum dapat menutupi modal mereka, alias rugi. Biaya yang keluar tak sebanding dengan pemasukan. Walaupun tak dinafikan ada juga dari mereka yang kaya mendadak. Itu pun hanya segelintir saja. Dana yang dikumpulkan-penambang ada yang bergrup dan perorangan, dikurangi dengan biaya operasional, jauh panggang dari api.

Hasil tambang yang diharapkan untuk menutupi modal tak kesampaian. Penyebabnya, dari berkarung-karung batu yang diharapkan mengandung emas yang dikumpulkan dengan modal yang lumayan besar ternyata nihil. Tak ada batu yang mengandung bijih emas. Pengumpulan modal dengan cara berhutang akhirnya merugi, karena hutang tak dapat dibayar.

Alasan membayar hutang, menambang emas pun beraksi lagi dengan modal hutang baru. Istilahnya, gali lubang, tutup lubang. Penambang mulai berani berspekulasi dengan hutang sana sini dengan kepastian membayar yang tak jelas. Kondisi inilah yang kebanyakan dialami oleh penambang. Kerugian yang diderita pun dapat dikategorikan besar. Ini disesuaikan dengan kondisi sebelum menambang. Jika dalam grup, seorang merugi lebih dari Rp.5 juta sedangkan yang pribadi sekitar Rp.10 juta lebih. Pembelian peralatan dan biaya hidup menjadi pengeluaran utama ditambah dengan biaya kerja seperti pendulangan, pengangkutan, dsb.

Banyaknya masyarakat mengalihkan profesi mereka menjadi penambang dadakan ternyata bukan jawaban dari perubahan hidup yang lebih baik. Toh, kebanyakan dari mereka merugi besar. Sayangnya, mereka tidak menyadarinya dengan baik. Mereka merasa puas ketika mendapatkan dua mayam setelah sepuluh kali pergi menambang. Coba dibayangkan saja berapa banyak biaya yang keluar dikurangi dibandingkan dengan hasil yang didapatkan. Inilah kondisi rill kebanyakan masyarakat Aceh Jaya setelah menambang. Sebenarnya tidak ada perubahan yang menunjukkan adanya perbaikan.

Memang ada diantara mereka yang mendapat untung besar dari menambang emas ini, namun hanya segelintir saja. Meskipun begitu, masyarakat masih tetap menambang, seakan tak peduli dan tidak menyadari kondisi mereka sendiri yang ingin untung besar dengan cepat. Perjudian hidup masih berjalan. Masyarakat masih lebih merespon sesuatu yang instant mencari penghidupan. Mereka sudah kurang tertarik dengan menunggu hasil bertahun-tahun, seperti bertani. Alhasil kemiskinan pun masih mewarnai kehidupan masyarakat, peran Negara sangat penting disini, untuk memberikan jaminan kesejahteraan bagi seluruh warganya dan memberikan kesadaran bahwa tidak ada pertambangan yang tidak merusak lingkungan.

Oleh : Haricha Maria