Wednesday, March 31, 2010

Kondisi Kesehatan Masyarakat di Pedalaman Pulau Nias Masih Memprihatinkan

Kondisi Kesehatan Masyarakat di Pedalaman Pulau Nias Masih Memprihatinkan
Nias merupakan salah satu pulau di wilayah timur Sumatera yang juga menjadi kebanggaan Indonesia dengan ras, seni dan budayanya yang khas. Secara administratif, pulau Nias hanya mencakup satu kabupaten saja yaitu kabupaten Nias, namun dengan adanya pemekaran wilayah, sekarang ini telah dipisah menjadi empat kabupaten dan satu kotamadya. Tingkat pertumbuhan penduduk di pulau ini dapat dikatakan sangat tinggi dan mungkin bisa diumpamakan sama dengan tingkat pertumbuhan populasi negara Cina. Namun banyaknya populasi/etnis Nias tidak serta merta menyebabkan tingkat kepadatan penduduk di wilayah ini juga tinggi. Populasinya justru lebih banyak tersebar dan menetap di daerah di luar pulau Nias seperti Sibolga, Medan, Pekanbaru, Padang dan daerah lainnya. Pada umumnya mereka bermigrasi ke daerah lain disebabkan faktor pendorong dari dalam yaitu antara lain rendahnya tingkat pendapatan, sangat sempitnya lapangan pekerjaan, minimnya sarana dan prasarana umum seperti jalan raya, fasilitas pendidikan, dan lain sebagainya.

Salah satu kabupaten yang menjadi area kerja KOTIB adalah kabupaten Nias Selatan dengan ibukota Gomo. Di kabupaten ini, terdapat lima desa yang menjadi dampingan KOTIB antara lain; Desa Lahusa Idanotae, Desa Hilimbowo, Desa Sirahia, Desa Umbu dan Desa Lolosoni. Empat desa yang pertama masih dapat dengan mudah diakses dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Sedangkan desa yang terakhir yaitu desa Lolosoni sama sekali tidak bisa diakses bahkan dengan kendaraan roda dua. Pada dasarnya, kondisi relief permukaan bumi di desa ini tidak memungkinkan untuk pembangunan fasilitas jalan raya karena harus melintasi perut-perut sungai sampai ke puncak gunung. Jaraknya kira-kira 5 km dari jalan raya terdekat dan dapat ditempuh lebih kurang 1,5 jam. Bagi mereka yang baru mendatangi lokasi ini butuh waktu 2 jam lebih karena belum terbiasa.
lihat dari segi kesehatan, rata-rata masyarakat yang tinggal di desa dan jauh dari jangkauan transportasi kondisi mereka sangat memprihatinkan
lihat dari segi kesehatan, rata-rata masyarakat yang tinggal di desa dan jauh dari jangkauan transportasi kondisi mereka sangat memprihatinkan. Ibu-ibu hamil sangat membutuhkan imunisasi secara lengkap dan cuma-cuma. Tapi di desa-desa di Gomo dan mungkin saja kabupaten lain di pulau Nias para Ibu-ibu hamil ini tidak mendapatkan imunisasi yang lengkap. Jangankan lengkap, bahkan banyak diantara mereka yang sama sekali tidak mendapat imunisasi selama kehamilan. Begitu juga setelah lahir harusnya si bayi juga mendapat imunisasi lengkap namun hingga beranjak balita dan anak-anak mereka masih juga belum mendapat imunisasi. Bagaimana anak-anak disini bisa sehat? Bukankah kesehatan sangat berpengaruh dalam membentuk IQ anak?
banyak kita temukan balita dalam gendongan ibunya dengan kondisi kesehatan yang tidak baik
Jadi tidak heran apabila kita temui setiap hari pekan sekali dalam seminggu (biasanya penduduk yang tinggal di gunung pasti turun untuk membeli kebutuhan mereka selama satu minggu kedepan), banyak kita temukan balita dalam gendongan ibunya dengan kondisi kesehatan yang tidak baik. Apa yang mau mereka berikan? makanan bergizi susah didapatkan di daerah ini. Lihatlah ke dalam keranjang belanjaan mereka, yang ada hanyalah ikan asin sampah (ukurannya kecil-kecil dari berbagai jenis anak ikan) untuk lauk selama satu minggu dan beberapa centong garam rakyat yang tidak beryodium (biasanya digunakan untuk mengasinkan ikan). Bagi mereka makan indomie yang diseduh air panas sudah sangat nikmat sekali, padahal itu juga bisa mendatangkan penyakit. Tapi apa mau dikata, hanya itu yang ada disini (selain daging babi yang mendatangkan kolesterol dan darah tinggi).
KOTIB sudah berupaya untuk mengurangi angka gizi buruk ini dengan cara memberikan nutrisi bagi anak-anak di sekolah dan TPTG, pemberian vitamin secara rutin setiap dua minggu sekali dan pemberian susu bubuk khusus bagi balita yang menderita gizi buruk
Bagi orang tua yang berusia diatas 40an, mereka lebih banyak mengidap hipertensi dan hipotensi. Bagaimana tidak, mereka selalu mengkonsumsi secara berlebih makanan yang dan minuman yang merusak kesehatan mereka. Bagi kaum wanita, karena tenaga yang terlalu di forsir untuk bekerja di ladang, sementara nutrisi yang masukkan ke dalam tubuhnya tidak banyak akhirnya menderita hipotensi. Mereka lebih memprioritaskan pekerjaan daripada kesehatan mereka. Saat melakukan pengobatan ke desa Lolosoni (jadwalnya dua minggu sekali), memang banyak pasien yang datang untuk berobat dengan keluhan yang beragam. Tapi bagaimana penyakit bisa sembuh jika pasien tadi selalu mengkonsumsi makanan yang menjadi penyebab penyakit tersebut? Ketika ditegur mereka selalu berdalih; “kami mau makan apa lagi, hanya ini yang tersedia”. Atau kalau dilarang mengkonsumsi garam berlebih, mereka mengatakan “mana enak rasanya kalau tidak terasa garamnya”.

KOTIB sudah berupaya untuk mengurangi angka gizi buruk ini dengan cara memberikan nutrisi bagi anak-anak di sekolah dan TPTG, pemberian vitamin secara rutin setiap dua minggu sekali dan pemberian susu bubuk khusus bagi balita yang menderita gizi buruk. Akan tetapi tidak serta merta semua masalah ini terjawab. Butuh waktu yang lama untuk memulihkan semuanya. Masalah gizi buruk di desa – desa tersebut seharusnya mendapatkan perhatian dan penanganan yang lebih serius lagi dari berbagai pihak khususnya pemerintah dan lembaga – lembaga terkait.
 
KOTIB sendiri masih terus berupaya untuk mendapatkan dukungan, melanjutkan dan mengembangkan program pendidikan dan kesehatan di lima desa tersebut dan diharapkan juga di desa – desa terpencil lainnya sebagaimana program yang selama ini telah berjalan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.