Tuesday, July 13, 2010

Surat Terbuka Kepada Penyelenggara Rehabilitasi Rekonstruksi Sumatera Barat Paska Gempa

“Kepada Pemerintah Pusat, atau Pemerintah Daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), rekan-rekan dari  NGO dan yang lainnya, berilah setetes kesejukan kepada kami….  (Ibu Nurhakimah)
Kedai Yang Dihancurkan Gempa Mendapat Bantuan, Harapan Ibu Nurhakimah Yang Tak Kunjung Tiba

   “Kepada Pemerintah Pusat, atau Pemerintah Daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), rekan-rekan dari  NGO dan yang lainnya, berilah setetes kesejukan kepada kami…."  (Ibu Nurhakimah)

Begitulah sebaris kalimat yang tertulis dalam surat seorang ibu yang terkenal ceria, sabar dan penyayang. Sebuah angan atas perbaikan bangunan kecil ukuran 3x3 meter tempat ia biasa berjualan jajanan kecil dan kelontong lainnya. Kedai tersebut berada di Jalan Terusan Pariaman-Padang tepatnya di Dusun Ambacang Korong Sungai Laban Kenagarian Kurai Taji. Tak pelak gempa 30 September 2009 lah yang melumpuhkan kedai tersebut, setiap sisi bangunannya sudah retak bahkan tembok bagian belakang telah rubuh hanya dilapis terpal, pondasi pun sudah bergeser, bagian atap juga sudah rentan runtuh tapi masih coba ditopang dengan kayu broti seadanya begitu juga dengan pintu yang harus disangga dengan kayu agar bisa ditutup, keadaan ini pastilah menjadikan Keluarga Ibu Nurhakimah rentan terhadap reruntuhan rumahnya jika gempa terjadi lagi atau jika penyangga tersebut tidak kuat lagi.

Seperti itu lah gambaran kondisi kedai dari Ibu Nurhakimah, 45 tahun, ibu dari seorang anak semata wayangnya yang bernama Aldila Putri Hakmi yang akan masuk SLTA tahun ini. Setiap hari tanpa bosan-bosannya beliau meminta informasi kepada staf KOTIB setelah berkali-kali meminta kepada wali nagari setempat agar kedainya dapat didata seperti warga lainnya yang sama-sama memiliki kedai. Dia menceritakan dalam isi suratnya yang diberikan kepada KOTIB, bahwa kedai tersebut tidak didata oleh petugas validasi karena tidak dipakai sebagai tempat tinggal, padahal kenyataannya warga yang lain juga berstatus sama, tidak dipakai sebagai tempat tinggal. Memang dalam peraturan pemerintah jelas disebutkan masyarakat korban dampak bencana yang akan menerima bantuan stimulant tunai dari pemerintah terdiri dari tiga sektor, yakni perumahan (housing), ekonomi produktif dan sosial. Maka jelas kedai harus mendapatkan dana stimulant dari sektor ekonomi produktif, bisa juga melalui dana bantuan yang diajukan langsung ke Disperindag setempat.

Tentu rasa cemburu tidak dapat dihindari, karena seyogianya mereka adalah korban gempa, yang kebetulan sama-sama memiliki warung, namun menjadi berbeda ketika pemilik warung lainnya mempunyai hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan aparatur pemerintah dari tingkat Wali Nagari sampai Wali Korong. Kini kedai yang dibangun sejak 1999 pun tetap difungsikan seadanya, meski tidak jarang pembeli yang datang was-was khawatir kalau atap kedai tiba-tiba runtuh.

Padahal lahan pertanian yang berada cukup jauh dari rumah kini pun tidak dapat diolah lagi karena tidak ada modal, sementara pinjaman yang dahulu diperoleh dari induk semang untuk modal usaha menanam ubi jalar juga belum dapat dilunasi, satu-satunya sapi peliharaan mereka juga sudah terjual untuk biaya hidup. Maka besarlah angan mereka tentang terdatanya kedai tersebut agar mendapat dana perbaikan, untuk itu ia meminta Pemerintah mempertimbangkan seluruh warga yang pekerjaan dan tempat pekerjaannya hancur dilanda gempa untuk memperoleh bantuan melanjutkan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Lain cerita mengenai sang suami yang bernama AR. Bustami yang juga lahir pada bulan dan tahun yang sama dengan sang istri yakni Maret 1965, kini menderita penyakit yang belum diketahui namanya karena tidak ada biaya untuk berobat ke dokter, selain karena ada rasa minder dari benak bapak yang sebelum kejadian gempa berprofesi sebagai petani. Penyakit yang berupa benjolan-benjolan disekujur tubuhnya dikhawatirkan akan membesar dan semakin banyak jika tidak ditanganai segera. Hal ini tentu semakin berpengaruh pada kehidupan selanjutnya termasuk cita-cita anak semata wayang pasangan ini.

Alhamdulillah Dila, sejak SD hingga SMP tetap menjadi juara kelas, terang ibu yang selalu mengenakan jilbab, perempuan cantik tersebut  juga sering menjuarai lomba ditingkat kecamatan, kabupaten bahkan se Sumbar, seperti Juara I, Lomba Bimbingan Kelompok se-Sumatera Barat di Universitas Negeri Padang (UNP) pada 2010. Dia pun merupakan anak yang memiliki bakat dibidang bahasa, terbukti  dari keberhasilannya menjuarai lomba puisi di Education Expo Sumbar pada tahun 2008 dan pernah menjadi Finalis Story Telling Contest, se Kota Pariaman pada tahun yang sama. Pun prestasi di pendidikan Non Formal ditorehnya seperti peringkat ke-3 sebagai Wisudawati terbaik di Aziz Chan English Course (ACE) Pariaman, dan lulus Uji Kompetisi Bahasa Inggris Nasional.

Namun kesedihan dihati mereka dan juga buah hatinya pun seperti tak mau pergi menjauh. Pengumuman tentang beasiswa bagi pelajar berprestasi dan kurang mampu. Aldila Putri Hakmi yang lahir pada 7 Juli 1996, pun sudah ditulis namun dibatalkan karena diketahui merupakan anak satu-satunya. Maka beasiswa pun dibatalkan. Kenapa seperti itu peraturannya? Kami pun ingin mempunyai anak lebih dari satu, tetapi Tuhan tidak menakdirkan kami mempunyai anak lebih, karena sesudah melahirkan anak pertama, perut saya membesar seperti hamil umur delapan bulan. Namun setelah diperiksa ternyata, saya menderita Kista Ovarium, terangnya dalam surat. Kini bu Nurhakimah hanya memiliki satu ovarium, semenjak diangkat dia mengalami tiga kali keguguran dan keluhan akibat operasi pengangkatan tersebut kini adalah sering terjadi rasa nyeri diari-arinya. Belum lagi keluhan polip yang kerap timbul meski sudah diopersi hingga dua kali. Mengingat penyakit ini sudah diderita semenjak Bu Nurhakimah semasa kuliah dulu di salah satu Universitas Swasta di Jakarta.

Sudah pun rumah yang mereka huni sebenarnya adalah rumah keluarga besar belum juga mendapat dana perbaikan yang dijanjikan pemerintah melalui Pokmas, kedai yang menjadi sumber penghasilan tidak terdata, kini pasangan tersebut juga menderita penyakit yang sewaktu-waktu kambuh dan dapat menghambat aktifitas ekonomi mereka, sementara tahun ini anak mereka harus mendaftar ke SLTA yang otomatis perlu biaya lebih. Untuk itu, Pemerintah juga harus serius mendata dan membantu anak-anak yang terancam putus sekolah karena mata pencaharian orangtuanya hancur  sebagai dampak gempa bumi yang lalu.

Angan agar kedai didata, untuk mendapat dana bantuan merupakan harapan yang sangat besar guna terus melangsungkan kehidupan perekonomian termasuk sekolah putri mereka. Atau dengan kata lain ada pihak yang baik hati membantu ataupun pemerintah dengan bijaksana memberi beasiswa kepada putrinya hingga ke perguruan tinggi, agar bisa menjadi tulang punggung keluarga kedepan. Dan bantuan keringanan dalam mendapatkan fasilitas kesehatan untuk sang suami dan Bu Nurhakimah yang dikenal sangat ramah yang ternyata tidak luput dari beban penyakit pun akan menjadi setetes kesejukan yang sangat dinanti mereka sejak gempa 30 September 2009 yang lalu. Padahal, jika ditelusuri dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2007  Tentang Penanggulangan Bencana Pasal 26 ayat 2 menegaskan Setiap orang yang terkena bencana berhak mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. Dengan demikian, bantuan untuk melanjutkan perekonomian keluarganya adalah merupakan hak Ibu Nurhakimah dan korban gempa lainnya.

Oleh: Dosmega Lestari Purba
edited: ransibar