Tuesday, August 17, 2010

Perempuan korban gempa Sumatera Barat Bicara Hak-haknya

Gempa yang terjadi pada 30 September 2009 yang lalu telah menghancurkan rumah ibu Leni, sehingga ia harus menopang reruntuhan rumahnya dengan pohon-pohon pinang agar tetap dapat dijadikan sebagai tempat tinggal, mengganti dinding betonnya dengan terpal plastik dan mengganti atap seng yang rusak dengan atap rumbia
Satu hari sebelum merdeka, tepatnya tanggal 16 Agustus 2010, seorang perempuan korban gempa menyampaikan keluhan dan harapannya kepada tim dari Perkumpulan KOTIB.

Namanya Ibu Nurlaeni, 40 tahun, seorang lulusan SMEA, aktif sebagai Pengurus Koperasi Wanita (Kopwan) Saiyo Sakato, yang saat ini tinggal di Korong Pinang Nagari Pauh Kambar, Kecamatan Nan Sabaris. Pekerjaan ibu Nurlaeni sehari-harinya adalah menjahit pakaian dan membuat bordir pada kain. Ibu Leni, begitu temannya biasanya memanggilnya,dia memiliki dua orang anak yang sudah sejak kecil ditinggalkan oleh bapaknya, Ibu Leni dengan semangat yang luar biasa bertekad membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya  meskipun harus dilakukan seorang diri.

Gempa yang terjadi pada 30 September 2009 yang lalu telah menghancurkan rumah ibu Leni, sehingga ia harus menopang reruntuhan rumahnya dengan pohon-pohon pinang agar tetap dapat dijadikan sebagai tempat tinggal, mengganti dinding betonnya dengan terpal plastik dan mengganti atap seng yang rusak dengan atap rumbia.

 Sampai saat ini, ibu Leni mengaku belum mendapatkan bantuan dari pemerintah dalam membangun kembali rumahnya yang rusak, meskipun Ibu Leni sudah aktif dalam organisasi masyarakat yang memperjuangkan hak-hak korban gempa yaitu Forum Komunikasi Peduli Anak Negeri (FKPAN), aktif dalam pembentukan POKMAS (Kelompok Masyarakat  - salah satu syarat mendapatkan bantuan pemerintah-) namun bantuan dana yang dijanjikan oleh pemerintah masih belum juga diperolehnya.

“Perempuan masih kurang dihargai pada saat dia memperjuangkan hak-haknya”, demikian komentar Ibu Leni saat ditanya tentang kegiatannya yang selama ini aktif memperjuangkan hak-hak korban gempa Sumatera Barat. “Orang yang paling menderita saat gempa menghancurkan rumah dan harta benda masyarakat adalah perempuan”, ujar ibu Leni. “Karena perempuanlah yang paling banyak tinggal dirumah untuk merawat dan membesarkan anak-anak mereka.” Lanjutnya.

Menurut Ibu Leni, dalam kegiatan untuk memperjuangkan adanya bantuan dari pemerintah dalam membangun kembali rumah penduduk yang hancur karena gempa mayoritas dilakukan oleh perempuan, “hal ini mungkin dipengaruhi oleh sistem masyarakat adat di Padang Pariaman yang mensyaratkan bahwa perempuanlah yang memiliki hak milik atas pusaka, rumah atau barang peninggalan orangtua,” jelasnya. Hal ini mungkin juga terkait dengan uniknya sistem masyarakat adat di Minangkabau yang menganut sistem matrilineal yaitu menurunkan suku ibu kepada anak keturunannya, bukan dari suku bapaknya sebagaimana yang dianut oleh sistem Patrilineal.

Menurut Ibu Leni, kaum perempuan sering sekali diintimidasi dalam memperjuangkan hak-haknya. “Intimidasi yang dimaksudkan adalah dengan menyebarkan kepada masyarakat bahwa kami adalah perempuan yang tidak baik, dianggap pembuat onar dan dianggap tidak berhak berbicara atas nama masyarakat karena kami perempuan.” Jelas Ibu Leni. “Padahal kamilah yang paling menderita anak dan keluarga kami tinggal di rumah-rumah darurat yang sewaktu-waktu bisa runtuh dan melukai kami,” lanjutnya. “Udara panas dan dingin sangat cepat masuk kedalam rumah kami yang berdindingkan plastik tipis dan beratap rumbia,” ujar Ibu leni.

 Ibu Leni berharap agar perempuan dihargai pendapatnya, tindakannya, perjuangannya dalam mendapatkan hak-haknya setara laki-laki. “Jangan anggap karena kami perempuan sehingga dengan seenaknya bisa dibodohi dan dianggap tidak penting dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi,” seru Ibu Leni. “Kami bahkan belum melihat adanya program khusus yang dilakukan oleh pemerintah dalam menangani perempuan korban gempa di Sumatera Barat,” ujar Ibu Leni. “Jika esok Indonesia merayakan hari kemerdekaan maka kami perempuan korban gempa berharap agar perempuan juga dimerdekakan dari penderitaannya dan dari perbuatan diskriminasi yang mengenyampingkan peran perempuan dalam setiap aspek kehidupan masyarakat,” tutup Ibu Leni.

Sesuai dengan data dan wawancara yang dilakukan tim Perkumpulan KOTIB dengan masyarakat korban gempa yang mayoritas terdiri dari perempuan, beberapa masalah yang dihadapi oleh perempuan korban gempa di Sumatera Barat saat ini adalah:


  1. Tidak adanya rumah tempat tinggal, Rumah Tempat tinggal yang selama ini digunakan bersama anak-anak dan keluarga  menjadi hancur dan tidak layak digunakan sebagaimana mestinya karena gempa.
  2. Perempuan paling terganggu jiwanya setelah terjadinya gempa, banyak yang mengaku sering menangis jika melihat reruntuhan rumahnya, sering melamun, emosi tidak stabil, sering marah, bingung.
  3. Psikologi anak-anak yang terganggu, emosinya gampang berubah, tidur minta ditemani, mudah menangis, seperti trauma mendalam terhadap gempa.
  4. Masalah ekonomi yang semakin sulit karena kebutuhan sehari-hari semakin meningkat, terutama kepada perempuan yang menjadi orangtua tunggal.
  5. Rumah sementara (kebanyakan dibantu oleh NGO) yang sangat tidak memadai untuk perempuan, terutama untuk kepentingan pribadi yang bersifat biologis.
  6. Tidak memiliki kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan perekonomian, kejiwaan dan mengalami kehidupan sehari-hari seperti sebelum gempa