Get Adobe Flash player

Gunung Ujeun Aceh Jaya, menjanjikan atau meragukan?

dialog publik tambang emas Gunung Ujeun Aceh JayaOleh : Haricha Maria

Pada tanggal 18 Agustus 2009 yang lalu, KOTIB mengadakan dialog publik yang bertema Pengelolaan pertambangan emas Gunung Ujeun berbasis masyarakat di Aceh Jaya. Tujuan dari dialog ini adalah untuk mengingatkan masyarakat akan ancaman keselamatan jiwanya karena menambang dengan pola tradisional, ancaman kerusakan lingkungan dari kegiatan pertambangan, ancaman terkontaminasi logam berat karena menggunakan merkuri dan ancaman datangnya investor untuk menguasai tambang emas di wilayah tersebut. Dialog ini adalah bentuk kepedulian KOTIB terhadap nasib para penambang yang terancam kehidupannya atas ancaman yang disebutkan tadi. Mereka hanya bermodalkan semangat, ingin cepat mendapatkan uang, rasa penasaran dan pengetahuan yang seadanya. Dialog ini menghadirkan aktivis tambang nasional, Hendrik Siregar dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Jaya dan pembicara Bappedal Provinsi Aceh. Hadir dalam dialog ini pemuka masyarakat dari Kecamatan Panga dan Krueng Sabee, para penambang, penggiling batu yang mengandung emas dan organisasi lain yang juga bekerja di wilayah Aceh Jaya.

Sejak dibuka September 2008, Gunung Ujeun pun beralih fungsi yang dulunya adalah  sang penjaga ekosistem pun mulai rusak. Penggalian disana sini untuk mendapatkan bijih emas merusak fungsinya. Penebangan hutan dan menggali terowongan sedalam lebih dari 30 m menjadi pemandangan yang lazim di Gunung Ujeun yang berada di desa Panggong, salah satu desa dampingan KOTIB. Kerusakan ini tak dapat dielakkan dan pasti terjadi di daerah pertambangan. Tak peduli siapapun yang mengelelola, perusahaan besar ataupun masyarkat biasa. Perbedaannya hanya terletak pada masa atau waktu yang dibutuhkan untuk merusaknya.

Tulisan ini sedang tidak membicarakan kerusakan lingkungan, namun dampak lain yang juga menjadi perhatian. Dampak terhadap kondisi ekonomi masyarakat yang nantinya sangat mempengaruhi kesejahteraan mereka. Apakah pertambangan ini sudah menjawab kondisi itu? Ada perubahan besarkah? Apakah berbanding terbalik pada saat pertama diketahui tentang keberadaannya?.

Dari hasil survey yang dilakukan KOTIB pada bulan Juni sampai Agustus terhadap 96 responden yang dibagi dalam 5 kategori, penambang, penggiling, masyarakat sekitar dan lainnya menunjukkan adanya perubahan terhadap perekonomian. Perubahan yang ditunjukkan adalah kurva menaik, dengan kata lain meningkatkan ekonomi keluarga. Sayangnya peningkatan ini pun menjadi tidak valid ketika melihat kembali kepada kondisi rill mereka. Kondisi rill ini dapat dicontohkan dari total pengeluaran mereka dengan pendapatan mereka. Kata untung-untungan masih tetap harus dilekatkan pada mereka, karena nanti hasil menambang itu tak ada kepastian. Kemungkinan pulang dengan tangan berisi hanya sekitar 20%, jika dibandingkan pulang dengan tangan kosong yang mencapai 80%. Sangat disayangkan.

Namun kondisi ini tidak mengurangi jumlah penambang. Malahan mengadu nasib di Gunung Ujeun menjadi trend di masyarakat kabupaten Aceh Jaya saat ini. Mereka meninggalkan lahan pertanian mereka dan memilih ke Gunung Ujeun. Medan yang sulit diitempuh, kondisi kerja yang berat dibandingkan dengan bertani tak menyurutkan semangat untuk menambang. Lebih parahnya, masyarakat yang menjadi penambang tadi pun tak segan-segan mengeluarkan modal yang besar untuk melancarkan profesi barunya. Hal yang terakhir berbanding terbalik dengan kondisi ketika mereka masih bertani. Kesulitan dana menjadi alasan tidak berkembangnya pertanian mereka. Masyarakat tak gigih mencari modal untuk bertani, jika dibandingkan dengan mencari modal untuk menambang. Sangat disayangkan. Penambang dadakan ini tak segan-segan berhutang banyak untuk modal menambang, walaupun hasil belum tentu ada. Dana yang dikumpulkan tak tanggung-tanggung, mencapai lebih dari Rp. 5 juta per orang. Mampu mendapatkan modal sebegitu banyak? Nyatanya, toh mereka tetap menambang. Perjudian hidup pun dimulai.

Pengamatan langsung terhadap penambang dadakan menunjukkan tidak ada perubahan signifikan. Beberapa diantara mereka mengatakan sebenarnya kebanyakan pemasukan penambang belum dapat menutupi modal mereka, alias rugi. Biaya yang keluar tak sebanding dengan pemasukan. Walaupun tak dinafikan ada juga dari mereka yang kaya mendadak. Itu pun hanya segelintir saja. Dana yang dikumpulkan-penambang ada yang bergrup dan perorangan, dikurangi dengan biaya operasional, jauh panggang dari api.

Hasil tambang yang diharapkan untuk menutupi modal tak kesampaian. Penyebabnya, dari berkarung-karung batu yang diharapkan mengandung emas yang dikumpulkan dengan modal yang lumayan besar ternyata nihil. Tak ada batu yang mengandung bijih emas. Pengumpulan modal dengan cara berhutang akhirnya merugi, karena hutang tak dapat dibayar. Alasan membayar hutang, menambang emas pun beraksi lagi dengan modal hutang baru. Istilahnya, gali lubang, tutup lubang. Penambang mulai berani berspekulasi dengan hutang sana sini dengan kepastian membayar yang tak jelas. Kondisi inilah yang kebanyakan dialami oleh penambang. Kerugian yang diderita pun dapat dikategorikan besar. Ini disesuaikan dengan kondisi sebelum menambang. Jika dalam grup, seorang merugi lebih dari Rp.5 juta sedangkan yang pribadi sekitar Rp.10 juta lebih. Pembelian peralatan dan biaya hidup menjadi pengeluaran utama ditambah dengan biaya kerja seperti pendulangan, pengangkutan, dsb.

Banyaknya masyarakat mengalihkan profesi mereka menjadi penambang dadakan ternyata bukan jawaban dari perubahan hidup yang lebih baik. Toh, kebanyakan dari mereka merugi besar. Sayangnya, mereka tidak menyadarinya dengan baik. Mereka merasa puas ketika mendapatkan dua mayam setelah sepuluh kali pergi menambang. Coba dibayangkan saja berapa banyak biaya yang keluar dikurangi dibandingkan dengan hasil yang didapatkan. Inilah kondisi rill kebanyakan masyarakat Aceh Jaya setelah menambang. Sebenarnya tidak ada perubahan yang menunjukkan adanya perbaikan. Memang ada diantara mereka yang mendapat untung besar dari menambang emas ini, namun hanya segelintir saja. Meskipun begitu, masyarakat masih tetap menambang, seakan tak peduli dan tidak menyadari kondisi mereka sendiri yang ingin untung besar dengan cepat. Perjudian hidup masih berjalan. Masyarakat masih lebih merespon sesuatu yang instant mencari penghidupan. Mereka sudah kurang tertarik dengan menunggu hasil bertahun-tahun, seperti bertani. Alhasil kemiskinan pun masih mewarnai kehidupan masyarakat, peran Negara sangat penting disini, untuk memberikan jaminan kesejahteraan bagi seluruh warganya dan memberikan kesadaran bahwa tidak ada pertambangan yang tidak merusak lingkungan.
 
Special Thank's to

TEARFUND

 tearfund

The Johanniter
International Assistance

johanniter

Tear Tegen Armoede

Pilih Bahasa
English French German Italian Portuguese Russian Spanish
Anda mau jadi relawan?
Jika anda berniat menjadi relawan untuk membantu saudara-saudara kita yang dilanda bencana, silahkan kirimkan biodata lengkap anda, kami akan menghubungi anda jika suatu saat terjadi bencana. Pertolongan anda akan sangat berarti bagi saudara-saudara kita yang saat ini hidup di wilayah-wilayah yang rawan bencana.